Lumajang Travelers

Lumajang Travelers, Puncak B29, Air terjum Tumpak Sewu, Sgi Tiga Ranu, Ranu Pane Base Camp Semeru Mountains.

Lumajang Social Hiking

Warna Warni Budaya Jawa, Madura, Tengger, rancak tersaji disini.

Lumajang Exotics View

Lembah luas sepanjang kaki Semeru, Gunung tertinggi di Jawa ada disini.

Lumajang Care

Masyarakat care, penuh empati, dihampar senyum, salam, dan sapa.

Harmoni Lumajang

Temukan Harmoni Lumajang diantara serakan awan dan hamparan hijau ladang dan ngarainya.

Friday, November 9, 2018

Yang Smooth


Sebuah Pilihan dari Sebuah Keharusan

Dalam sebuah manajemen pengelolaan SDM, biasanya tujuan utama berupa efisiensi, efektifitas, juga  peningkatan produktifitas. Menjadi unik karena sasarannya manusia, Karena anatomi dan hatinya. Karena proses metabolisme fisiknya. Karena fitrahnya.

Bude jamillah sempat mencatat dan mengamati sekilas perubahan suasa hati pasca suksesi ini. Bude mengekspresikan perubahan itu dalam beberapa morfologi bahasa. Misalnya, dulu relatif silent. Sebagian besar olahan yang tersaji di meja makan, tersaji dari dapur kedap berdinding tebal.Anak-anak minim informasi keruwetan bundanya meramu resep, mencincang bawang, mengaduk telur, atau mencicip rasa. Anak-anak sering hanya meraba suasarna dapur.

Sementara saat ini, hiruk pikuk dapur, penampakan bahan mentah, plating, garnies, sering kali dengan mudah diakses anak-anak, jauh sebelum tersaji di meja makan. Mereka dengan jelas dapat mendengar keluh kesah orang tuanya meramu resep, mencincang bawang, memeras santan. Bahkan sumpah serapah mereka saat mata memerah karena enzim  propanethial sulphoxide dari irisan bawang.

Sebetulnya, masih menurut bude, semua ini soal pilihan. Jika diterjemahkan lebih lugas dapat dibilang soal strategi. Strategi orang tua dalam mengarahkan anak, memotivasi, mendidik.
Banyak pilihan, beberapa pendekatan. Bisa dilakukan dengan  disiplin ketat, instruksional.  Bisa dengan memarahi, membentak, mempermalukan. Keluarannya mungkin anak akan nurut. Terbentuk disiplin lurus, patuh. Dan seterusnya. 

Dapat juga dilakukan dengan merengkuh, memotivasi, memberi suri taulada, memuji. Keluarannya mungkin anak akan nurut. Terbentuk disiplin lurus, patuh. Dan seterusnya.  

Yang membedakan jelas soal kualitas. Jelas bude Jamillah. Dari sono-nya manusia tidak ada yang mau dipermalukan. Merasa dikalahkan. Disalahkan, atau merasa jadi pecundang.
Dari kenyataan tersebut, maka lahirlah jargon terkenal filosofi Jawa itu : sugih tanpo bondo, ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake.

Bisa dianalogikan, anak yang dibesarkan dilingkungan sarkastik, maka dia akan pandai mengumpat. Anak yang dibesarkan di lingkungan penuh kasih sayang, dia akan pandai memuji dan mengapresiasi. Idiomatik ini sangat mungkin berlaku universal. Pada semua struktur dan tingkatan. Pun pada birokrasi.

Bude jamillah membayangkan, bagaimana sebuah birokrasi yang dibangun dari rasa kekeluargaan. Dibangun dari kebiasaan saling salam, saling sapa. Birokrasi yang dibangun dari empati, lembut budi. Birokrasi yang tegak berdisiplin karena sesama mereka berkeluarga dalam rasa.  Birokrasi yang malu jika tidak berdedikasi. Malu ketika ada rasa jengah saat melayani.

Namun semua selalu ikut alur sunnatullah. Semua ada plus minusnya. Dan ceritanya akan selalu panjang. Seperti kecepatan medsos yang akan selalu membuat sebagian kita terkaget dan tergagap. Semua memungkinkan mengekspresikan konten remeh temeh menjadi reportase. Kadang bisa menjadi semacam shock terapi. Alat berkaca diri. Juga bisa menjadi pemicu benci.

Penting cek, re cek, tabayyun. Pun pada sebuah keluarga
Sebelum diskusi ini usai, bude bilang, anak birokrasi seperti itu hanya akan lahir dari kasih sayang tulus orang tua yang mengayomi. Di rengkuhannya, rasa nyaman akan dirasakan ....

Monday, October 2, 2017

Last Minute MR Campaign Lumajang

Akselerasi Kampanye MR Ala Lumajang


Masih soal Measles rubella, pada tulisan terdahulu "Kompetisi" Kampanye MR", bagaimana diyakinkan bahwa kesimpulan "memble" yang ditulis salah satu kolom Jawa Pos pada capaian MR Lumajang,  terlalu prematur.

Delapan hari kemudian, per 30 September 2017, capaian proyeksi Lumajang tepat pada posisi 99,47%. Hampir klop dengan estimasi Bude Jamillah (waktu itu) dengan melihat trend harian dan akselerasi yang telah dengan sangat luar biasa dilakukan petugas di lapangan.

Pada akhirnya Pakde Parto yakin bahwa Jatim Oke Lumajang Memble hanya soal diksi rima pantun (oke-memble). Bukan soal lain. Seharusnya bisa juga sih dipilih oke dan kurang kece, atau oke - kurang sae, lanjut Pakde sedikit bersungut.

Antrian MR Mengular sampai luar rumah sakit
Kampanye imunisasi MR yang dicanangkan di Jogja oleh Presiden Joko Widodo, 1 Agustus 2017, dilaksanakan serentak diseluruh propinsi di pulau Jawa pada bulan Agustus dan September 2017 ini. Pun demikian di Lumajang Jawa Timur. Dengan latar belakang persoalan yang mendera, hari-hari terakhir kampanye MR di  Lumajang menyisakan banyak cerita. Khususnya diseputar upaya akselerasi cakupan yang dilakukan seluruh pihak untuk mempercepat capaian. Memastikan seluruh sasaran telah mendapatkan imunisasi MR.

Pada minggu-minggu terakhir itu peran penting sangat dirasakan dari tim dokter spesialis anak. Sangat mobile bergerak pada lokasi-lokasi (sekolah, Ponpes, atau tempat lain) dimana keraguan masih tinggi. Baik karena hoax keamanan vaksin, kontra indikasi, isu halal haram atau sebab lain. Tim ini full support. Dari sosialisasi advokasi ulang sampai dengan konseling sasaran. Bahkan salah satu tim berseloroh bilang telinga sampai "mendenging" karena stetoskop terus tercekat hinga ratusan pasien dalam sekali waktu.

Disudut lain, sehari sebelum deathline masa kampanye MR, ratusan orang mengular di salah satu rumah sakit swasta di Lumajang. Satu hal yang pasti, karena konseling dilakukan oleh tenaga yang sangat dipercaya (dr.Spesialis).Berduyun rela antri untuk mendapatkan imunisasi MR untuk putra-putri  mereka.  Sesuatu yang seharusnya dengan sangat mudah mereka dapatkan di sekolah, posyandu, atau Puskesmas dekat rumah tinggal mereka. Tanpa mengantri, petugas mendatangi mereka. Vaksin nya sama persis. Satu pabrik dengan yang di rumah sakit. Bahkan tim vaksinatornya sama.  Pakde Parto baru "ngeh" bagaimana medsos sangat efektif berpengaruh pada psikologi sosial, apapun yang dibawa.


Siang itu juga diterima permintaan tambahan vaksin MR dari rumah sakit umum Dr. Haryoto. Ternyata persediaan vaksin secara cepat menipis karena  pasien jauh lebih banyak dari estimasi. Berjubel masyarakat dari berbagai kecamatan rela mengantri untuk imunisasi MR. Selama masa kampanye, rumah sakit ini menerima rujukan imunisasi (karena kontra indikasi, atau sebab lain) dari seluruh wilayah. Namun dua hari terakhir itu, tidak sebatas pasien rujukan yang datang. Sebagian besar juga karena lebih "mantep" memilih jika imunisasi di lakukan di rumah sakit.Sebagian besar dikoordinir desa dan Puskesmas. Sebagian lain datang secara mandiri.

injury time MR campaign
Tidak hanya di rumah sakit, pun di Puskesmas Kota, terjadi antrian ratusan masyarakat berbondong memanfaatkan detik-detik terkahir masa kampanye. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Petugas  sigap melayani. Sesuatu yang sudah biasa mereka lakukan bahkan berminggu sebelum ini,setiap hari. Sebagai limpahan berbagai pos pelayanan di Posyandu, PAUD, TK, SD, dan SMP. Karena sedang sakit pada saat jadwal MR di sekolah, karena ragu-ragu, atau sebab lain.

Sekali lagi Pakde Parto teringat fenomena (dua minggu sebelumnya), dimana masyarakat berbondong minta surat keterangan sehat hanya untuk memastikan anaknya memenuhi kualifikasi untuk diimunisasi.Karena isu dan hoax.

Dari petugas lapangan juga diterima upload foto pelaksanaan imunisasi MR malam hari pada beberapa pos. Sungguh belum pernah terjadi sebelum ini, pembagian shift kerja imunisasi pada malam hari.

Yang juga secara intens melakukan "push" dan pendampingan dilapangan adalah camat kepala wilayah. Pemantauan dan intervensi dilakukan tim pada masing-masing kecamatan. Seperti yang dilakukan pada salah satu wilayah ini, camat ikut melakukan rekapitulasi cakupan dari masing-masing pos. Mendata Sasaran-sasaran yang belum diimunisasi, beserta masalah yang dihadapinya. Kemudian bersama muspika langsung menjadwalkan sosialisasi dan advokasi. Sungguh sebuah sinkronisasi kerja yang luar biasa, memenuhi tenggat waktu yang tersisa.

Belum lagi berbagai upaya terkhir untuk negosiasi pada sasaran yang masih "kekeh" pada keputusan untuk tidak ikut program nasional imunisasi MR ini. Beberapa berhasil, sebagian kecil diantaranya mentok. Seperti kegagalan meyakinkan salah satu pos penting di salah satu wilayah. Berombongan lengkap sudah siap dengan logistik vaksin, pelarut, spuit, anafilaktik kit. Sudah berkali datang, sudah berkali pula ditolak. Toh diujung akhir diskusi memang tidak ada sanksi untuk yang menolak kampanye ini. Sesuatu yang tentu (menurut Pakde Parto) kontadiktif dengan roh "massal" pada kampanye ini. Seharusnya negara punya perangkat paksa untuk sesuatu yang diyakii akan berakibat fatal bagi orang lain jika sebagian kelompok menolak imunisasi ini.

Disudut lain, di ruang kendali rekapitulasi Kabupaten, petugas sibuk download dan konfirmasi laporan pelaksanaan di lapangan. Bertubi email dan WA silih berganti, sebagian konfirmasi angka dan cakupan, sebagian terkait update susulan hasil pelaksanaan. Mengejar target waktu pelaporan hari itu.

Overall, average ....

Jika dianalisa  dengan trend pencapaian harian cakupan MR Lumajang, plus upaya akselerasi terakhir yang luar biasa dari seluruh komponen (seperti gambaran diatas), maka capaian akhir kampanye ini tentu sebuah keniscayaan. Selanjutnya tinggal melakukan sweeping untuk sasaran yang masih tersisa. Memastikan seluruh sasaran telah mendapatkan imunisasi. Mewujudakan Lumajang bebas campak dan rubella. Semoga ...

Sunday, September 24, 2017

"Kompetisi" Kampanye Imunisasi MR?

Catatan Kampanye Imunisasi MR Lumajang

Jawa Pos 22 September 2017 dalam salah satu kolom 'Imunisasi Campak Rubella' nya membuat sebuah judul "Jatim Oke, Lumajang Memble". Judul ini tentu sangat eksotis, mengena, menarik, dan mungkin tendensius, untuk sebuah hiruk pikuk jurnalisme (baca koran). Kata Bude Jamilah, khas tipologi bahasa hoax. Sekali mata melirik judul, jari dan jempol terhipnotis untuk segera klik, like, dan share. Soal isi utuh tulisan tentu hal lain.

Memble? Saya kira belum bisa dinilai se "menarik" itu.

Pertama karena diatas judul kolom itu ada tulisan "tinggal 8 hari lagi". Jika sedikit saja data dan analisa dilakukan, maka beberapa pertanyaan akan muncul. Masih 8 hari lagi, posisi 77%, plus trend pencapaian harian cakupan MR Lumajang. Saat tulisan ini saya buat, dua hari kemudian, cakupan ada di angka 83,8%. Terdapat kenaikan sekitar 3% per hari, kali 5 hari, sama dengan 15%. Dan capaian akhir akan ketemu 98% (target nasional >95%).

Sebagai awam saya maklum. Program imunisasi memang tidak hanya bicara soal kekebalan individu. Imunisasi men-syaratkan terwujudnya kekebalan komunitas, sehingga kemudian cakupan harus tinggi (MR >95%) untuk yakin mampu memutus mata rantai penularan campak dan rubella. Yang kemudian mengusik saya, soal target waktu kampanye MR ini. Apakah secara epidemiologi harus berakhir Agustus - September?  Mungkin tidak demikian jawabnya, toh dari aspek waktu lain, bahkan ada jeda setahun untuk wilayah diluar Jawa. Dan banyak pertanyaan awam lainnya yang tidak harus saya tulis (bukan domain cah ndeso, ujar bude Jamilah lagi)

Saya tidak tahu persis.mengapa program ini diberi nama "Kampanye" imunisasi MR?. Bukan Bulan Imunisasi MR misalnya, seperti Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio. Namun yang saya pahami kemudian setelah membaca kolom Jawa Pos ini, bahwa tersirat ada kompetisi dalam program ini. Capaian tiap wilayah akan dibandingkan, lalu dihare luas diberbagai media (medsos, atau lainnya). Tentu hal ini efektif meningkatkan kinerja di lapangan. Diantaranya karena terlecut semangat kompetisi. Berbagai terobosan dilakukan untuk mencapai target. Sistem akan bergerak meningkatkan cakupan.

Tentu yang harus dipastikan kemudian adalah validitas data cakupan dan sasaran.

Jika saya mengikuti cerita MR di Lumajang, dapat saya runutkan beberapa hal. Pada awalnya strategi Lumajang memang mengharuskan capaian pelan, tidak secepat Kabupaten Lain. Beberapa hal teknis turut mempengaruhi pemilihan strategi itu, misalnya terkait integrasi dengan program lain, dan pertimbangan teknis lainnya. Lumajang percaya diri dengan strategi ini, walau sebetulnya "sistem kompetisi" sangat mengusik. Sampai kemudian berita liar, hoax khas medos terkait isu kematian anak post MR menyeruak menyebar tak terkendali.

Isu hoax ini tidak secara cepat dapat diredam petugas di lapangan, diantaranya karena prosedur secara birokratis mengharuskan  pembagian level wewenang "hak jawab". Walaupun teknis dan referensi sebenarnya petugas di lapangan yakin dapat meng-counter hoax ini. Penjelasan resmi pusat yang kemudian muncul sudah sangat terlambat. Bude Jamillah bilang- sudah terlanjur terjadi "lost confident". Kita bisa melihat bagaimana sasaran MR baik di lingkup Posyandu, sekolah, bahkan ditingkat petugas sudah sangat tidak nyaman terhadap situasi yang ada. Mungkin belum pernah ada di wilayah lain, fenomena masyarakat berbondong minta surat keterangan sehat untuk memastikan anaknya memenuhi kualifikasi untuk diimunisasi. Bagaimana sekolah kemudian banyak yang mengedarkan inform consent ke wali murid terkait imunisasi MR (sesuatu yang sebetulnya tidak berlaku pada imunisasi massal. Bagaimana kemudian harus dilakukan sosialisasi ulang face to face, sekolah per sekolah, oleh petugas pada level yang lebih tinggi. Sesuatu yang sebelumnya mampu diatasi pada level Puskesmas. dan lain -lain .....

Namun apapun masalahnya, Dia pemilik skenario. Kita harus selalu khusnudhon terhadap rencanaNYa. Ada hikmah dibalik semuanya. Selalu optimis (sejak awal) menjalankan strategi dan rencananya, sampai 30 September 2017. Demi derajat kesehatan masyarakat, memenuhi hak setiap anak mendapatkan imunisasi, demi masa depan mereka. 

Saturday, March 11, 2017

Yang Kusuka dari Amerika

Daily nates today : recommended environmental health film ..
(seri catatan harian 04/09/2012)


Daily nates today : recommended environmental health film ..
Satu hal yang pasti kusuka dari Amerika adalah filmnya .... selain tentu microsoft, google, dan boeing-nya. Sementara sederet hal lain yang tidak kusuka dari dia,selalu kehadiran mereka di banyak negeri dengan konflik dan perangnya, juga mahalnya CD asli windows 8 mereka ..... he3 .. Dan film erin brockovich, sebagaimana rekomendasi pak Wahyu "pengampu hukum lingkungan kita, hanya sebagian kecil wajah film Amerika yang gamblang merepresentasikan budaya, perjuangan hukum lingkungan, dan sentuhan kemanusiaan yang diracik apik khas sentuhan hollywood, dengan sentilan kuat pada sisi kemanusiaan dan detail plot film.
masih di bandungan Semarang

Erin Brockovich (lahir 22 Juni 1960), adalah seorang aktivis lingkungan berkebangsaan Amerika yang memenangkan gugatan atas kasus pencemaran air minum di California oleh Pasific Gas and Electric Company. Sekarang dia bekerja sebagai presiden Brockovich Research and Consulting dan konsultan untuk Girardi and Keese. Erin Brockovich juga menjadi inspirasi untuk film peraih Oscar yang berasal dari kisah nyata, yang menggunakan namanya sebagai judul film, Erin Brockovich. Julia Roberts memerankan Erin sebagai tokoh utama. Film tersebut dinominasikan untuk 5 piala Oscar, Aktris Utama Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik, Direktur Terbaik, Gambar Terbaik, Penulisan Naskah Terbaik. Julia memenangkan penghargaan untuk Aktris Utama Terbaik (Wikipedia).

Tahukah kita (post graduate kesling UGM) bahaya penggunaan Chromium Hexavalent yang dipersoalkan dalam film ini, sehingga erin brockovich berhasil memenangkan gugatan (atas PG&E) terbesar dalam sejarah pengadilan Arbitrasi Amerika Serikat ... ? (tugas baru Prof Sukandarrumidi ... bahas ...!!”

Friday, March 10, 2017

Seri Catatan Harian-Terjebak Hujan


TerJebak Hujan di seputar Malioboro
(18 Maret 2012)

  • Tumpah ruah semburat lintang pukang muncrat di sela ketiak jagad, jadikan pertiwi dihampar selaksa H2O .
  • Dan barisan arthropoda melantunkan syair syukur bertubi-tubi, dan geliat basah bumi jadikan rekah senyum simpul spora taenia saginata dan mansomnia banchrofti .
  • Di ujung ekor mataku, berjalan tertatih serombongan sales promotion girl Matahari dept Store, berjingkat hindari selingkuh hujan yang kian mendera ..

     

Thursday, March 2, 2017

Tanah Dijual di Paiton Probolinggo

Tanah Strategis DijualTanpa Perantara di Paiton Probolinggo


Memenuhi permintaan sahabat yang berencana untuk hijrah, berikut disampaikan kepada pengunjung Blog ini, informasi terkait Penjualan Tanah di Paiton dan Rumah di Lumajang :


Tanah Pekarangan
Detail Lokasi dan Luas
  • Luas Tanah 1.073 Ha (sekitar 42x250 meter). Sertifikat dan surat-surat lengkap
  • Alamat : Jl. Daendles / Raya Paiton Kec. Paiton Kab. Probolinggo – Jatim - (Sebelah barat PLTU Paiton)
    (Di dekat lokasi saat ini juga sudah berdiri banguna Rumah Sakit Paiton)


Rumah
Detail Lokasi dan spesifikasinya sebagai berikut :
  • Luas Tanah – 412 m2
  • Luas bangunan – 200 m2Tampak Luar
Alamat : Jl. Srikaya Gg. Masjid No. 18 Sukodono
Kab. Lumajang - JatimTampak Dalam 

INFORMASI LENGKAP :
- atau telp./WA 081249286834 – BBM 550FEAD0

Sunday, February 19, 2017

Pogung Temaram

   Pogung Temaram Senja Ini 
   (Seri Catatan Harian 17/09/2012)

  • Pogung temaram senja ini, bayangnya dilipat cakrawala nun jauh diujung buram pojok kali code
  • “    Dan sebarisan blekok itu tersengal luruh di atas kepak bumi yang kian tak bersahabat. Tepat diakhir kelokan selokan mataram di depan fak. Kehutanan itu. ... 
  • Dan aku.., sedang masgul direnda celoteh KRS dan sebarisan panjang aksioma, nun jauh disana di cekung kecil julang semeru..” 

Thursday, February 16, 2017

Global Warming dan Nyi Roro Kidul

Global Warming dan Ketajaman Ramalan Joyo Boyo
(seri catatan harian 25/09/2012)

“Mohon do'a restu teman-teman, sesuai rencana aku pindah topik proposal. Topik baru saya saat ini sudah mendapat respon cukup menggembirakan dari para akademisi dan pengampu mata kuliah di lingkungan IKM - UGM (melalui serangkaian korespondensi yang kami lakukan). Kebanyakan mereka berpendapat, selain eksklusive, langka, menantang secara metodologis, mereka juga sangat apreciate dan respect, karena topik ini mampu menjembatani missing link antara budaya jawa dan environmental health secara global.

Sebagai sharing dapat saya tuliskan topik baru proposal adalah "Global Warming dan Ketajaman Ramalan Joyo Boyo - Studi Tentang Ramalan Hilangnya Beberapa Kota di Jawa Karena Banjir". ..

Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif "Supranatural Regression" dengan alat ukur wawancara imajiner terukur dengan para tokoh mendiang raja-raja Jawa. Sementara key person koresponden adalah Nyi Roro Kidul, sebagai penguasa wilayah yang secara langsung akan terkena dampak global warming karena mencairnya es di kutub.

Saat ini saya sudah melatih beberapa tenaga pelaksana wawancara yang terdiri dari para dukun terlatih (termasuk dukun cabul-versi pak soend). Dalam informed consent kita, sudah disepakati kedua belah pihak, tidak menggunakan tape recorder atau alat tulis dalam wawancara ini. Sedangkan sebagian besar biaya penelitian terserap pada biaya pengadaan kemenyan, dupa, dan kembang ....”

Wednesday, February 15, 2017

Geliat Mood

Geliat di seputar Pogung Rejo B02
(catatn harian 03/09/2012)

(lokasi-Taman wisata Bandungan Semarang)
Geliat di seputar Pogung Rejo B02 makin menemukan chemistri awalnya. Dengan hilir mudik dan simpang siur para pemburu ilmu itu berburu warnet, foto copy jilid, angkringan, dan free hotspot area. Sementara aku masih disibukkan oleh pencarian jati diri mood dan rasa pada geliat proposal yang smakin kehilangan sentuhan magis sinkronisasi keyboard byon-mouse logitech-browser google chrome Versi 21.0.1180.89 Stable-direct access-dan fresh graduate kesling sisa energi semester 2 ku (yang telah raib ditelan ingar bingar iedul fitri dan tafakur panjang ramadhan itu) .... how about you guys and ladies the best post graduate kesling 2011 ... ? - Just Share .. he3”

Tuesday, February 7, 2017

Sambel uleg pandinicus gadieronencis

Sup rattus rattus daun bawang(Seri Catatan Harian-09/08/2012)

“Menu berbuka spesial puasa dari Kijang Island dan Great Lumajang Distric, bisa pesan via email, nanti kita kirim via google drive :

- Oseng - oseng periplanata americana
- Sambel uleg pandinicus gadieronencis
- Nasi goreng campur musca domestica
- Es sirup taenata saginata campur selasih
- Rempeyek rayap tungau daun jeruk
- Anopheles aedes goreng pedas
- Sup rattus rattus daun bawang
- Omelet gepeng giardia lambia daun pandan
- Rendang goreng trichomonas vaginalis bumbu pala
- Soup scabies saos tomat Wuchereria bancrofti”

Wednesday, January 25, 2017

Protein Kebo

Tragedi Iwak Peyek
Catatan Harian 27/07/2012 ... 

“Menanggapi SMS mb "iwak peyek" terkait tragedi kedelei yg berdampak serius terhadap raibnya iwak tahu dan iwak tempe yg pada akhirnya menohok telak komsumsi pokok ketua kelas kita shg hanya menyisakan iwak sambel di piringnya, dengan ini kami himbau agar dapatnya moment ramadhan ini kita jadikan tonggak hijrah dari pola lama memenuhi kecukupan protein sehari-hari kita dari sumber nabati ke hewani.

Hal diatas sudah lama dilakukan masyarakat disekitar kami, sehingga disana tingkat konsumsi daging sudah diatas rata-rata orang Skandinavia. Sangat mudah dijumpai disini cafe-cafe yang menyediakan berbagai pilihan steak  daging, burger, berbagai pilihan omelet daging, kwetiau sapi, lumpia daging kerbau, pepes buaya, pindang belut cah kepiting, bistik daging kuda dengan balutan keju berbahan dasar susu kambing ettawa, dan lain-lain ......”

Tuesday, January 3, 2017

Seri catatan Harian - Thesis

Hot Topik : Thesis Kesling UGM 2011,  Manifesto Kesling 2011
(01/07/2012)


Saudara-saudara ku sebangsa tanah dan sebangsa air, klan kesling post graduate ugm 2011.
Perjalanan singkat kita bergumul dengan tatap muka kuliah, tugas copas google kita,ujian dengan ingar bingar diskusi kita ... adalah bukan roh kehadiran kita di Jogja. Skor PAPS dan Acept kita, IP sementara di ph-gmu kita, bukan cermin kedigdayaan dan kesaktian sistem pembelajaran ugm kita. Inti dan cermin kehadiran kita di ruang 310, adalah tugas maha keren penyusunan thesis kita.

Kita harus menikmati thesis ini, merengkuhnya, memeluknya, dan membuatnya terkapar dengan selaksa intelektualitas kita. Mari kita knock down proposal thesis kita dengan hantaman semburat infra red barcode textbook perpustakaan kita. Kita hadirkan rangkaian panjang beriring pubmed-science direct's journal di thesis kita.

Sahabat ....
Thesis ini hanya secuil dari rangkaian panjang penelitian kita. Dalam keseharian kerja di habitat kita nanti, sentuh rutinitas kerja kita dengan hipotesa dan metodologis deduksi & induksi kita. Tulislah semua yang sahabat kerjakan, dan kerjakan semua yang sahabat tuliskan ... dan umumkan pada dunia ... eksistensi kita. Saya percaya, lima tahun lagi, jika kita searching journal di Direct-Acces, akan muncul nama-nama peneliti andal Supandi, MPH, Abdullah Gadir Pua MPH, Selviana Yuantari MPH, Rabbany Karimuna MPH, Septiani Mustar MPH, Nayla Firia MPH, Farid Ayumi MPH, Dwi Gamalama MPH ......”

Sunday, February 1, 2015

Wakil Bupati Lumajang 2015

Catatan Sosok dan Pilihan Wakil Bupati Lumajang

Saat ini, setelah Bupati Sjahrazad Masdar meninggal dunia, berbagai pergunjingan ditengah masyarakat Lumajang terkait siapa sosok pengganti wakil bupati. Sebagaimana kita ketahui, setelah Bupati terpilih berhenti ditengah jalan karena berbagai sebab, maka prosedur secara otomatis menaikkan Wakil Bupati Lumajang (Drs. As'at Malik, M.Ag) menduduki jabatan Bupati,.dan jabatan wakil bupati pengganti beliau-lah saat ini yang ramai dipergunjingkan masyarakat Lumajang.

Beberapa tokoh dan sosok dari berbagai latar belakang dicoba disandingkan dengan Drs. As'at Malik. Setidaknya menurut beberapa media, tentu bukan didasarkan survey. Sebatas rasan-rasan. Pun demikian yang dilakukan bude jamilah dengan komunitas NTR (Ngrumpi Tanpa Referensi), yang beranggotakan ibu-ibu rumah tangga tulen disekitar rumahnya ini.

Sebetulnya Bude Jamilah dan komunitasnya masih diselimuti duka mendalam atas berpulangnya putra terbaik Lumajang, Bupati Sjahrazad Masdar yang dikenal sebagai sosok lurus dan cerdas ini. Namun sesuai tipikal ibu-ibu pada umumnya, mereka terusik juga oleh rasan-rasan soal wakil bupati ini. Pun sebagaimana umumnya ibu-ibu, beberapa pilihan mereka jatuh pada kriteria "kegantengan" sosok. Mengandaikan sosok wabub itu yang Aleando lah, yang Arjuna dalam serial Mahabharata lah, yang ganteng kalem serupa SBY lah, dan sosok khas doktrin infotainment lainnya yang terlanjur menghujam di benak mereka.


Dari berbagai seliweran nama dan sosok yang beredar, sebetulnya secara pribadi Bude Jamilah nge-fans sama dr. Buntaran yang Sekda itu. Disamping sosok dokter, pengalaman birokrasi beliau sudah mumpuni. Berbagai jabatan pernah diembannya. Dari Kepala Puskesmas, Kepala Bidang, Asisten Administrasi Sekretariat Pemda, Kepala Dinas, dan saat ini Sekretaris Daerah. Dan menurut catatan bude Jamilah, sosok lain yang sementara beredar belum satupun yang selengkap ini track pengalaman, kiprah dan karirnya.

Masih menurut Bude jamilah, yang menonjol dari dr. Buntaran saat ini adalah kemampuannya merangkul berbagai komponen masyarakat. Kegandrungan beliau pada gowes, diantaranya mampu menyatukan koordinasi dan hubungan personal yang lebih intens dan dinamis dari berbagai tingkatan birokrasi (tingkatan kepala sampai staf) di Kabupaten Lumajang. Bahkan menurut selentingan khabar, jajaran legislatif pun akan menjadi bagian didalamnya, dalam komunitas bike for fit,fun, and social community.

Logika sederhana Bude Jamilah membayangkan, jika wabub itu dr. buntaran, maka berbagai kebijakan dan tugas Bupati As'at Malik menjadi lebih aplikatif untuk dilaksanakan. Karena kekompakan perangkat birokrasi dibawahnya sedikit banyak sudah terbangun dan sinkron. Bude jamilah masih sedikit ingat teori koordinasi ketika ikut kelas paket c dulu, bahwa komponen koordinasi itu terdiri atas Komunikasi, Integrasi, Sinkronisasi, dan Mekanism. Dan itu, sedikit banyak, sudah terbangun di era Sekda dr. Buntaran ini.

Logika Bude Jamilah masih belum mampu "nggrayahi" arah dan kecenderungan pilihan Bupati As'at Malik. Karena hak prerogatif ada di Bupati. Namun Bude masih ingat betul bagaimana kompromi akhirnya dilakukan Gubernur Ahok di Jakarta ketika berhadapan dengan Parpol pengusung. Dan kelemah utama dr. Buntaran, karena beliau murni praktisi profesional, adalah pada basis politik di DPRD. Namun Parpol di DPRD Lumajang sebetulnya juga lemah pada kader yang praktisi profesional di birokrasi. Beberapa sosok yang disebut mereka, diantaranya sebetulnya juga alumni birokrasi (baca pensiunan). Memang pertimbangan politik tidak melulu soal kecakapan dan profesionalitas birokrasi, disana ada kalkulasi parpol (baca partai pengusung), kalkulasi basis massa keagamaan (seperti NU non NU, lainya), dan berbagai kalkuklasi lainnya yang (celakanya tidak mampu diurai Bude jamilah).

Wallohua'lam Bisshowab ...

Sunday, January 18, 2015

Sisa Catatan Kecil Air Asia itu

Antara Parasut dan Menjinakkan Gravitasi

Hal pertama yang menjadi pertanyaa awam saya ketika mendengar Air Asia Hilang kontak adalah, bagaimana sebuah barang dengan harga lebih dari 1 billion rupiah bisa tidak terdeteksi keberadannya ketika loss contact. Saya menjadi khawatir peristiwa Malaysia Airlines tempo hari terjadi pada Air Asia. Khawatir TNI dan Basarnas dengan tanpa kepastian dan keyakinan, akan hiruk pikuk diseantero wilayah koordinat samudra untuk mengendus nya. Alhamdulillah keberadaan Air Asia segera diketahui beberapa hari kemudian.

Kembali ke pertanyaan awam saya, harga selangit sebuah pesawat, komponen terbesarnya sebetulnya mengarah kemana sih? Aspek kenyamanan, aspek kemanan, pajak, keangkuhan teknologi, atau "ke-ke" yang lainnya? Berapa lapis tool yang dicadangkan sehingga jika sebuah force majeur  menimpa sebuah pesawat kita tak lagi dibingungkan lagi dengan hanya pada proses pencarian koordinat keberadaan?

Saya menjadi teringat pada (konon) kemajuan teknologi spionase jauh ketika jaman era perang dingin dulu. Bagaimana teknologi Barat mampu membaca (bahkan) sebuah kolom majalah yang dibaca pejabat kremlin.Itu dulu, belum saat ini, ketika era google dan android telah membuat terperangah kita kaum pengguna (bukan barisan pencipta).Bagaimana kenyataan kita tak lagi punya ruang privasi secuilpun dihadapan para pencipta itu. Kita punya acount media sosial di rumah mereka, kita punya email di rumah mereka, kita chatting, upload gambar, mengeluh, menggerutu dan sejuta ekspresi kegalauan kita tulis di server dan hosting mereka. Bahkan kita menyimpang sedikit kerja dan dokumen kita di cloud mereka. Intinya, saya pikir, kita sudah menyerahkan data diri kita pada para pencipta dan pemodal.

Apalagi sebuah jati diri pesawat semahal dan secanggih itu. Teknologi macam apalagi yang belum sempat dibenamkan pada mereka? Namun ada sedikit otak atik logika awan saya menyangkut itu. Berbagai keterbatasan, kalau boleh diasumsikan sesederhana itu, teknolohi saat ini, diantaranya karena kegagalan teknologi dalam menjinakkan gravitasi. Saya membayangkan bagaimana wajah bumi akan berubah total jika gravitasi bisa dijinakkan. Taruhlah pada sektor transportasi, kemacetan tidak lagi terjadi di daratan jalan raya, di angkasapun akan disibukkan dengan macet dan pengaturan kanal jalur taransportasi. Dan kita tidak akan lagi mendengar pesawat terbang jatuh.

Ok lah jika ide menjinakkan gravitas terlalu jauh. Lagi-lagi pertanyaan awan saya. Mengapa sebuah pesawat tidak dilengkapi parasut cadangan sebagai pilihan terakhir jika terjadi loss tenaga? Saya membayangkan sebuah pesawat terbang yang turun pelan-pelan dengan parasut besar yang mencekeram kuat body pesawat.Toh pada pesawat tempur, penggunaan parasut untuk membantu proses pengereman sudah biasa digunakan.

Menyangkut cumulusnimbus? ... akal memang sering lupa diri, teknologi kadang berdiri angkuh ditengah ingar bingar kecanggihannya". Kita juga sering dibodohi dengan casing dan harga. Padahal dihadapan pencipta kita tidak ada apa-apanya ...

The Virgin Bamboo Forest

Wisata Hutan Bambu Lumajang

Peran penting Hutan bambu di wilayah Penanggal kecamatan Candipuro ini – selain tempat wisata – adalah fungsi besarnya sebagai reservoar air. Di hutan bambu ini tersimpan air bersih dengan debit melimpah. Hutan bambu Penanggal mampu mensuplai air untuk kebutuhan pertanian maupun air bersih masyarakat jauh di sekitar wilayah ini.

Hutan bambu juga cocok sebagai habitat kera yang hidup nyaman beranak pinak di hutan ini. Untuk lebih. Lebih lengkap gambaran hutan bambu Penanggal lengkap dengan limpahan air bersihnya, sebagaimana dalam video berikut :


Sunday, April 6, 2014

Reward PNS Kita

Cerita tentang pegawai negeri, akan selalu menarik untuk dieksploitasi dari sudut manapun. Sudut pandang kita pada Pegawai negeri memang akan sangat banyak - dapat diambil dari berbagai sisi, baik sisi kinerja dan produktifitas, tingkat kesejahteraan dan penggajian, loyalitas, etos kerja, bahkan sampai sisi pilihan politik, tingkat perceraian, angka ketergantungan pada narkoba, an lain lain – dan lain-lain.
image
Dan diantara berbagai sudut pandang dan komentar orang, atau pakar, atau yang menamakan diri pakar, atau menyimak obrolan tetangga kiri kanan – agaknya sudut pandang miring (bisa ke kiri atau ke kanan) yang paling sering terdengar. Orang akan sering mendengar komentar berbau kurang simpatik terhadap berbagai jenis pelanggaran yang dilakukan oleh PNS, mulai dari yang bersifat kurang prinsipil (remeh temeh) – seperti shopping pada jam kantor – sampai yang bersifat prinsipil seperti kasus korupsi (walaupun yang satu ini masih kalah gaung dan proporsionalnya dibandingkan dengan wakil rakyat kita).

Wednesday, March 12, 2014

DR. HARYOTO HOSPITAL UNHOSPITALITY


Kyai Kasrtubi berkunjung di rumah sakit di pinggir kota itu dengan amat ringan dan tanpa beban. Baru memasuki pintu masuk yang diujungya terbentang selasar dan taman pojok yang dilengkapi air mancur dan biorama alam yang terkesan eksklusif, resepsionis yang di bibirnya telah terpasang cetak biru sinyum dan sapa ramah, menyambutnya dengan kesan kuat akan ketulusan.

Wednesday, February 12, 2014

Ayat-Ayat Syaiton (?)


THE SATANIC VERSE (?)

Aku senang ngobrol dengan Kyai Kastubi bukan karena masalah kitab kuning yang gundul. Bukan pula karena kyai kampung ini (meminjam terminology Gus Dur), sudah ikut-ikutan menjadi oportunis,menurut simbokku, karena berulang kali ganti kendaraan politik “hanya untuk sekedar” numpang nampang di acara-acara seremonial ulama’- umaro” di kampungku. Juga bukan masalah Ahmadiyah, kitab mujarobat, label halal, fatwa aliran sesat, ONH yang seiya sekata dengan harga minyak goreng curah, dan lain-lain topik pergunjingan remeh temeh di acara infotainment. Aku senang ngobrol dengan kyai Kastubi ternyata karena beliau punya pandangan yang selalu tidak sama dengan pandangan-pandanganku !

Pada saat aku sibuk dengan daftar hujatan ku pada Amerika karena telah menenggelamkan bangsa Irak kembali ke abad pertengahan dan menjarah habis cadangan minyaknya, kyai Kastubi dengan enteng mengatakan persetujuannnya karena AS telah membantu musuh bebuyutannya, mendiang Saddam, karena telah berbuat mubadzir dengan mengobarkan Perang Irak – Iran serta berbuat mubadzir pula dengan keputusan kurang gaweannya dengan menyerang Kuwait.
Pada saat aku bingung mencari literatur tentang Bakteri Sakazaki, beliau bilang berita itu memang telah di setting manis untuk kampanye ASI dan ikutannya (ya dana, kebijakan, opini, dll).

Pada saat aku ikut-ikutan prihatin akan semakin mindernya tentaraku karena alat-alat perangnya sudah tidak layak untuk latihan (apalagi untuk perang beneran), dia bilang itu hanya secuil manuver para broker.
Pada saat aku nerocos berargumen tentang mencari akar penyebab dan alternatif memecahkan masalah gizi buruk dari aspek optimalisasi peran masyarakat pada deteksi dini lewat Posyandu, beliau bilang bahwa cikal bakal masalah itu lahir sejak Bulog dikebiri IMF atas nama Gombalisasi. 

Jauh seberlum Menkes berimprovisasi dengan virus Flu Burung yang berakrab ria dengan adidayanya Amerika, kyai Kastubi telah dengan sinis mengatakan bahwa tidak akan mungkin kita mencari asal muasal Virus Flu Burung yang bikin demam tinggi dan sesak tinggi, dan kematian tinggi ratusan saudara kita. Apalagi dicari dengan menembaki merpati dan membakari ayam dan itik dipekarangan kita. 

Aku sebetulnya malu, karena ternyata reaksiku selalu spontan dikarenakan melihat TV, membaca Koran, Browsing Internet, atau melototi infotainment. Sedangkan Kyai Kastubi tanpa melihat hal itu selalu telah mempunyai pandangan dan pendapatnya sendiri. Jangan-jangan media menjadi the satanic verse bagiku ............... ?

Tuesday, February 11, 2014

Fit and Proper Test

Fit and Proper Test pada Birokrasi – Sebuah Catatan

Sejak awal – dan sering timbul tenggelam berganti topik dan gossip – di Lumajang topik fit and proper test relatif stabil menghiasi top topic, baik dimasyarakat maupun di lingkup birokrasi. Dengan jargon peningkatan sumber daya manusia pada birokrasi, yang ditopang dengan madzab transparansi dan akuntability, agaknya topik tersebut cenderung menarik dan up to date untuk diobrolkan di warung-warung seputaran stadion Semeru. dasi

Perhatian dan gerakan politis pada jargon peningkatan Sumber Daya Manusia ini memang akan selalu dirasakan relevansinya dan penting untuk ditekankan pada keluarga besar birokrasi – yang agaknya selalu bermasalah dengan kinerja dan tingkat kesejahteraan.

Pada awal cerita, rencana fit and proper test bagi para calon pejabat tersebut satu paket dengan “janji politis” lainnya – yang kemudian harus diterjemahkan dengan amanah politis.

Sebetulnya mungkin menjadi sangat logis ketika kita membicarakan fit and proper test ini apabila juga harus kita bicarakan tentang stok. Dengan stok yang melimpah kita perlu semacam media rapid sand filter (meminjam istilah media proses purified air bersih) untuk mendapatkan atau menentukan stok yang cocok bin sesuai dengan tuntutan pasar (masyarakat, user).

Konon Fit and proper Test dalam bahasa Inggris berarti pantas-patut atau layak (baca kepatutan, kepantasan, kelayakan). Sehingga test ini dapat berarti uji kepatutan, uji kepantasan, atau uji kelayakan – uji Kemampuan dan Kelayakan. Beberapa jenis uji biasanya akan diberikan menyangkut beberapa indikator, diantaranya uji kemampuan (knowledge), ketrampilan (skill) serta masa kerja. Indikator knowledge biasanya akan menyangkut parameter visi, misi, pengetahuan umum, ataupun pengetahuan yang relevan dengan bidangnya. Sedangkan skill dapat menyangkut technical skill dan managerial skill. Untuk uji kepatutan atau kemampuan biasanya akan dilakukan dengan mengaitkannya dengan sikap atau perilaku (attitude) serta masa kerja yang lampau (experience). Sementara indikator lain biasanya akan diberlakukan menyangkuit integritas dan kompetensi.

Namun kalau kita melihat prasyarat eksternal dengan memasukkan unsur stok atau ketersediaan, terdapat kenyataan yang relatif sulit dibantah, bahwa stok memang terbatas. Bahkan dengan indikator dan kriteria simple tapi wajib yang bernama Golongan, Kepangkatan, dan Masa Kerja, akan sulit mencari pilihan lain.

Karena kita tahu, jabatan struktural itu ya jabatan politis – walaupun hal tersebut menurut bude Jamilah tidak tepat – namun konvensinya kayaknya demikian. Saya menjadi teringat celotehan mbah Kasan tentang pola pembentukan kabinet di negeri tetangga sebelah – bahwa kabinet yang terbentuk dari sebuah proses ingar bingar demokrasi ujung-ujungnya merupakan kabinet sharing dan balas jasa (dari partai pendukung – begitu menurut pakar di TV One). Dan pada saat itu - tim sukses akan betul-betul sukses - sedangkan tim yang tidak sukses alias tim suksesnya lawan akan betul-betul terpuruk. Dan dogma utamanya adalah loyalitas, loyalitas yang sangat dipersempit pada ranah pribadi, dan bukan loyalitas pada standard profesi apalagi negara (terlalu ndakik-ndakik ?.

Salah mereka juga sih, sudah dibilang harus netral ya mesti netral. Namun netralitas itu mestinya juga harus berlaku pada seluruh ujung kontestan, lha sama – sama tidak netral tim sukses kemudian sukses, sedang tim yang tidak sukses kemudian terpuruk. Mbah bilang nepotisme itu sunnatulloh .... wallohu a’lam bissawab ...

Ah itu sudah menjadi cerita lama, dan cerita baru akan segera dimulai (setidaknya menurut sang dalang imajiner) - dan lakon cerita itu bernama Fit and Proper Test. Sebetulnya cerita itu akan mempunyai alur dan ending yang keren apabila tim yang tidak suksespun diberi kesempatan bertanding (seperti yang sudah sangat cantik diperagakan SBY dalam penyusunan konfigurasi pemerintahan pasca Pilpres). . Walaupun range nilai tinggi tentu akan jatuh pada indikator loyalitas – its ok – namun azas keadilan dan transparansi sepertinya akan selalu dicatat di hati masyarakat. Untuk loyalitas - apakah perlu melibatkan metode sumpah pocong dan penggunaan instrumen lie detector – celetuk bude Khasanah ............ mboh bude …… iku ben dadi urusane sedulur seng nggawe dasi wae  …..

Thursday, November 28, 2013

Century Bank Show

Century of Centurious
 
Akhir-akhir ini ide dan minat menulisku cenderung loyo dan mati kutu. Kalau ingin mencari kambing hitam, mungkin dapat kusebut sederet alibi, seperti vitalitas otak yang selalu bermasalah dengan lola (loading lama), atau bombardir blow up media massa terhadap secuil kasus (dari ribuan kasus yang sebenarnya ada). Dan seperti psikologi massa lainnya, informasi media ini sering menina bobokkan fikiran kritis penonton, kemudian perasaan dan fikiran bawah sadarny yang aktif turun naik. Apalagi blow up ini mempunyai trend selalu menggunakan referensi pakar dan yang menamakan diri pakar.

 korupsi Seorang motivator sempat tergelitik untuk berkomentar atas hiruk pikuk euforia media massa ini, dengan menyayangkan beberapa manuver tokoh yang kebetulan memang telah dianggab antagonis. Mereka telah melakukan usaha yang sia-sia, karena masyarakat sudah amat yakin dengan kesimpulannya. Pertanyaannya - apakah itu inisiatif sang tokoh atau sang tokoh telah menjadi korban industri media (dengan segudang effortnya untuk mencari suku cadang berita). Namun apapun asbabun nuzulnya, saat ini semua memang sudah tergilas industri media, minimal dari sudut opini.

Namun persoalan menjadi lain ketika media memang mempunyai seperangkat alat bukti yang valid, seperti rekaman percakapan telepon antara Anggodo dan berbagai pihak yang dihubunginya. Walaupun legalitas kekuaatan hukum masih menjadi perdebatan, namun bukti itu telah menghipnotis jutaan rakyat Indonesia dan menggiring opini mereka bahkan sampai pada kesimpulan benar dan salah. Dan ketika beberapa pihak yang telah masuk dalam percakapan itu mencoba menjelaskan, seperti komentar sang motivator diatas, akan mubadzirlah semuanya.

Its oke, apapun jenis alibi dan manuvernya, saat ini semua sudah jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah dari perang opini dan perang pencitraan ini. Masalahnya sekarang bagaimana cara mundur yang terhormat. Cerita itu dimulai ketika Presiden membentuk Tim 8. Kalau boleh diartikan, pembentukan tim ini mungkin sudah di-nawaitu-kan sebagai jalan mundur yang elegan itu. Ketika rekomendasi tim ini di-floor kan ke publik, pada saat itu juga (sebetulnya) tahap perang opini dan pencitraan dimulai. Selanjutnya Presiden tinggal melingkari jawaban betul dan salah yang sudah sangat jelas dapat dibaca. Dan diam-diam saya salut dengan cara Presiden kita meramu kata-kata dan berekspresi dalam intonasi yang sangat pas dalam kapasitasnya.

Reaksi kurang sepadan sebetulnya justru diperlihatkan oleh para lawyer, sepertinya maqom pengetahuan hukum mereka terlalu jauh meninggalkan maqom intuisi politisnya. Seperti komentar mereka bahwa Presiden harus eksplisit menyampaikan kebijakan dan langkah atas rekomendasi ini. Justru mnenurut saya, pidato presiden sudah sangat eksplisit menanggapi rekomendasi Tim 8. Kejelasan itu menampakkan wujud aslinya, salah satunya ketika Mabes Polri mengumumkan gerbong Mutasi para Patinya (dan sang lakon termasuk di dalamnya). Walaupun masyarakat sangat maklum bahwa mutasi ini skenario mundur teratur yang elegan .... namun harus diakui cara ini ternyata relatif rahmatan bagi pihak yang berperkara. Dan saat tulisan ini di posting, kita masih menunggu skenario-skenario elegan lain dari obyek sasaran rekomendasi Tim 8, mungkinn ada yang telah menemukan cara yang jauh lebih terhormat ?

Dan cerita ini sepertinya akan terus bergulir ke episode-episode selanjutnya. Sebetulnya sang lakon telah bergeser, dari KPK ke MK !! Pada awal pergantian dari Maestro Jimly Asshiddiqie ke Machfud MD sebenarnya saya sempat kurang rahayu. Permainan cantik yang sempat dibangun Jimly (khawatir) tidak lagi dapat diteruskan Machfud, tapi ternyata produk Madura ini jauh lebih cantik dalam mengocek gerakan tanpa bola. So ... waited next game ....