Lumajang Travelers

Lumajang Travelers, Puncak B29, Air terjum Tumpak Sewu, Sgi Tiga Ranu, Ranu Pane Base Camp Semeru Mountains.

Lumajang Social Hiking

Warna Warni Budaya Jawa, Madura, Tengger, rancak tersaji disini.

Lumajang Exotics View

Lembah luas sepanjang kaki Semeru, Gunung tertinggi di Jawa ada disini.

Lumajang Care

Masyarakat care, penuh empati, dihampar senyum, salam, dan sapa.

Harmoni Lumajang

Temukan Harmoni Lumajang diantara serakan awan dan hamparan hijau ladang dan ngarainya.

Showing posts with label Muatan Lokal. Show all posts
Showing posts with label Muatan Lokal. Show all posts

Friday, November 9, 2018

Yang Smooth


Sebuah Pilihan dari Sebuah Keharusan

Dalam sebuah manajemen pengelolaan SDM, biasanya tujuan utama berupa efisiensi, efektifitas, juga  peningkatan produktifitas. Menjadi unik karena sasarannya manusia, Karena anatomi dan hatinya. Karena proses metabolisme fisiknya. Karena fitrahnya.

Bude jamillah sempat mencatat dan mengamati sekilas perubahan suasa hati pasca suksesi ini. Bude mengekspresikan perubahan itu dalam beberapa morfologi bahasa. Misalnya, dulu relatif silent. Sebagian besar olahan yang tersaji di meja makan, tersaji dari dapur kedap berdinding tebal.Anak-anak minim informasi keruwetan bundanya meramu resep, mencincang bawang, mengaduk telur, atau mencicip rasa. Anak-anak sering hanya meraba suasarna dapur.

Sementara saat ini, hiruk pikuk dapur, penampakan bahan mentah, plating, garnies, sering kali dengan mudah diakses anak-anak, jauh sebelum tersaji di meja makan. Mereka dengan jelas dapat mendengar keluh kesah orang tuanya meramu resep, mencincang bawang, memeras santan. Bahkan sumpah serapah mereka saat mata memerah karena enzim  propanethial sulphoxide dari irisan bawang.

Sebetulnya, masih menurut bude, semua ini soal pilihan. Jika diterjemahkan lebih lugas dapat dibilang soal strategi. Strategi orang tua dalam mengarahkan anak, memotivasi, mendidik.
Banyak pilihan, beberapa pendekatan. Bisa dilakukan dengan  disiplin ketat, instruksional.  Bisa dengan memarahi, membentak, mempermalukan. Keluarannya mungkin anak akan nurut. Terbentuk disiplin lurus, patuh. Dan seterusnya. 

Dapat juga dilakukan dengan merengkuh, memotivasi, memberi suri taulada, memuji. Keluarannya mungkin anak akan nurut. Terbentuk disiplin lurus, patuh. Dan seterusnya.  

Yang membedakan jelas soal kualitas. Jelas bude Jamillah. Dari sono-nya manusia tidak ada yang mau dipermalukan. Merasa dikalahkan. Disalahkan, atau merasa jadi pecundang.
Dari kenyataan tersebut, maka lahirlah jargon terkenal filosofi Jawa itu : sugih tanpo bondo, ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake.

Bisa dianalogikan, anak yang dibesarkan dilingkungan sarkastik, maka dia akan pandai mengumpat. Anak yang dibesarkan di lingkungan penuh kasih sayang, dia akan pandai memuji dan mengapresiasi. Idiomatik ini sangat mungkin berlaku universal. Pada semua struktur dan tingkatan. Pun pada birokrasi.

Bude jamillah membayangkan, bagaimana sebuah birokrasi yang dibangun dari rasa kekeluargaan. Dibangun dari kebiasaan saling salam, saling sapa. Birokrasi yang dibangun dari empati, lembut budi. Birokrasi yang tegak berdisiplin karena sesama mereka berkeluarga dalam rasa.  Birokrasi yang malu jika tidak berdedikasi. Malu ketika ada rasa jengah saat melayani.

Namun semua selalu ikut alur sunnatullah. Semua ada plus minusnya. Dan ceritanya akan selalu panjang. Seperti kecepatan medsos yang akan selalu membuat sebagian kita terkaget dan tergagap. Semua memungkinkan mengekspresikan konten remeh temeh menjadi reportase. Kadang bisa menjadi semacam shock terapi. Alat berkaca diri. Juga bisa menjadi pemicu benci.

Penting cek, re cek, tabayyun. Pun pada sebuah keluarga
Sebelum diskusi ini usai, bude bilang, anak birokrasi seperti itu hanya akan lahir dari kasih sayang tulus orang tua yang mengayomi. Di rengkuhannya, rasa nyaman akan dirasakan ....

Monday, October 2, 2017

Last Minute MR Campaign Lumajang

Akselerasi Kampanye MR Ala Lumajang


Masih soal Measles rubella, pada tulisan terdahulu "Kompetisi" Kampanye MR", bagaimana diyakinkan bahwa kesimpulan "memble" yang ditulis salah satu kolom Jawa Pos pada capaian MR Lumajang,  terlalu prematur.

Delapan hari kemudian, per 30 September 2017, capaian proyeksi Lumajang tepat pada posisi 99,47%. Hampir klop dengan estimasi Bude Jamillah (waktu itu) dengan melihat trend harian dan akselerasi yang telah dengan sangat luar biasa dilakukan petugas di lapangan.

Pada akhirnya Pakde Parto yakin bahwa Jatim Oke Lumajang Memble hanya soal diksi rima pantun (oke-memble). Bukan soal lain. Seharusnya bisa juga sih dipilih oke dan kurang kece, atau oke - kurang sae, lanjut Pakde sedikit bersungut.

Antrian MR Mengular sampai luar rumah sakit
Kampanye imunisasi MR yang dicanangkan di Jogja oleh Presiden Joko Widodo, 1 Agustus 2017, dilaksanakan serentak diseluruh propinsi di pulau Jawa pada bulan Agustus dan September 2017 ini. Pun demikian di Lumajang Jawa Timur. Dengan latar belakang persoalan yang mendera, hari-hari terakhir kampanye MR di  Lumajang menyisakan banyak cerita. Khususnya diseputar upaya akselerasi cakupan yang dilakukan seluruh pihak untuk mempercepat capaian. Memastikan seluruh sasaran telah mendapatkan imunisasi MR.

Pada minggu-minggu terakhir itu peran penting sangat dirasakan dari tim dokter spesialis anak. Sangat mobile bergerak pada lokasi-lokasi (sekolah, Ponpes, atau tempat lain) dimana keraguan masih tinggi. Baik karena hoax keamanan vaksin, kontra indikasi, isu halal haram atau sebab lain. Tim ini full support. Dari sosialisasi advokasi ulang sampai dengan konseling sasaran. Bahkan salah satu tim berseloroh bilang telinga sampai "mendenging" karena stetoskop terus tercekat hinga ratusan pasien dalam sekali waktu.

Disudut lain, sehari sebelum deathline masa kampanye MR, ratusan orang mengular di salah satu rumah sakit swasta di Lumajang. Satu hal yang pasti, karena konseling dilakukan oleh tenaga yang sangat dipercaya (dr.Spesialis).Berduyun rela antri untuk mendapatkan imunisasi MR untuk putra-putri  mereka.  Sesuatu yang seharusnya dengan sangat mudah mereka dapatkan di sekolah, posyandu, atau Puskesmas dekat rumah tinggal mereka. Tanpa mengantri, petugas mendatangi mereka. Vaksin nya sama persis. Satu pabrik dengan yang di rumah sakit. Bahkan tim vaksinatornya sama.  Pakde Parto baru "ngeh" bagaimana medsos sangat efektif berpengaruh pada psikologi sosial, apapun yang dibawa.


Siang itu juga diterima permintaan tambahan vaksin MR dari rumah sakit umum Dr. Haryoto. Ternyata persediaan vaksin secara cepat menipis karena  pasien jauh lebih banyak dari estimasi. Berjubel masyarakat dari berbagai kecamatan rela mengantri untuk imunisasi MR. Selama masa kampanye, rumah sakit ini menerima rujukan imunisasi (karena kontra indikasi, atau sebab lain) dari seluruh wilayah. Namun dua hari terakhir itu, tidak sebatas pasien rujukan yang datang. Sebagian besar juga karena lebih "mantep" memilih jika imunisasi di lakukan di rumah sakit.Sebagian besar dikoordinir desa dan Puskesmas. Sebagian lain datang secara mandiri.

injury time MR campaign
Tidak hanya di rumah sakit, pun di Puskesmas Kota, terjadi antrian ratusan masyarakat berbondong memanfaatkan detik-detik terkahir masa kampanye. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Petugas  sigap melayani. Sesuatu yang sudah biasa mereka lakukan bahkan berminggu sebelum ini,setiap hari. Sebagai limpahan berbagai pos pelayanan di Posyandu, PAUD, TK, SD, dan SMP. Karena sedang sakit pada saat jadwal MR di sekolah, karena ragu-ragu, atau sebab lain.

Sekali lagi Pakde Parto teringat fenomena (dua minggu sebelumnya), dimana masyarakat berbondong minta surat keterangan sehat hanya untuk memastikan anaknya memenuhi kualifikasi untuk diimunisasi.Karena isu dan hoax.

Dari petugas lapangan juga diterima upload foto pelaksanaan imunisasi MR malam hari pada beberapa pos. Sungguh belum pernah terjadi sebelum ini, pembagian shift kerja imunisasi pada malam hari.

Yang juga secara intens melakukan "push" dan pendampingan dilapangan adalah camat kepala wilayah. Pemantauan dan intervensi dilakukan tim pada masing-masing kecamatan. Seperti yang dilakukan pada salah satu wilayah ini, camat ikut melakukan rekapitulasi cakupan dari masing-masing pos. Mendata Sasaran-sasaran yang belum diimunisasi, beserta masalah yang dihadapinya. Kemudian bersama muspika langsung menjadwalkan sosialisasi dan advokasi. Sungguh sebuah sinkronisasi kerja yang luar biasa, memenuhi tenggat waktu yang tersisa.

Belum lagi berbagai upaya terkhir untuk negosiasi pada sasaran yang masih "kekeh" pada keputusan untuk tidak ikut program nasional imunisasi MR ini. Beberapa berhasil, sebagian kecil diantaranya mentok. Seperti kegagalan meyakinkan salah satu pos penting di salah satu wilayah. Berombongan lengkap sudah siap dengan logistik vaksin, pelarut, spuit, anafilaktik kit. Sudah berkali datang, sudah berkali pula ditolak. Toh diujung akhir diskusi memang tidak ada sanksi untuk yang menolak kampanye ini. Sesuatu yang tentu (menurut Pakde Parto) kontadiktif dengan roh "massal" pada kampanye ini. Seharusnya negara punya perangkat paksa untuk sesuatu yang diyakii akan berakibat fatal bagi orang lain jika sebagian kelompok menolak imunisasi ini.

Disudut lain, di ruang kendali rekapitulasi Kabupaten, petugas sibuk download dan konfirmasi laporan pelaksanaan di lapangan. Bertubi email dan WA silih berganti, sebagian konfirmasi angka dan cakupan, sebagian terkait update susulan hasil pelaksanaan. Mengejar target waktu pelaporan hari itu.

Overall, average ....

Jika dianalisa  dengan trend pencapaian harian cakupan MR Lumajang, plus upaya akselerasi terakhir yang luar biasa dari seluruh komponen (seperti gambaran diatas), maka capaian akhir kampanye ini tentu sebuah keniscayaan. Selanjutnya tinggal melakukan sweeping untuk sasaran yang masih tersisa. Memastikan seluruh sasaran telah mendapatkan imunisasi. Mewujudakan Lumajang bebas campak dan rubella. Semoga ...

Sunday, September 24, 2017

"Kompetisi" Kampanye Imunisasi MR?

Catatan Kampanye Imunisasi MR Lumajang

Jawa Pos 22 September 2017 dalam salah satu kolom 'Imunisasi Campak Rubella' nya membuat sebuah judul "Jatim Oke, Lumajang Memble". Judul ini tentu sangat eksotis, mengena, menarik, dan mungkin tendensius, untuk sebuah hiruk pikuk jurnalisme (baca koran). Kata Bude Jamilah, khas tipologi bahasa hoax. Sekali mata melirik judul, jari dan jempol terhipnotis untuk segera klik, like, dan share. Soal isi utuh tulisan tentu hal lain.

Memble? Saya kira belum bisa dinilai se "menarik" itu.

Pertama karena diatas judul kolom itu ada tulisan "tinggal 8 hari lagi". Jika sedikit saja data dan analisa dilakukan, maka beberapa pertanyaan akan muncul. Masih 8 hari lagi, posisi 77%, plus trend pencapaian harian cakupan MR Lumajang. Saat tulisan ini saya buat, dua hari kemudian, cakupan ada di angka 83,8%. Terdapat kenaikan sekitar 3% per hari, kali 5 hari, sama dengan 15%. Dan capaian akhir akan ketemu 98% (target nasional >95%).

Sebagai awam saya maklum. Program imunisasi memang tidak hanya bicara soal kekebalan individu. Imunisasi men-syaratkan terwujudnya kekebalan komunitas, sehingga kemudian cakupan harus tinggi (MR >95%) untuk yakin mampu memutus mata rantai penularan campak dan rubella. Yang kemudian mengusik saya, soal target waktu kampanye MR ini. Apakah secara epidemiologi harus berakhir Agustus - September?  Mungkin tidak demikian jawabnya, toh dari aspek waktu lain, bahkan ada jeda setahun untuk wilayah diluar Jawa. Dan banyak pertanyaan awam lainnya yang tidak harus saya tulis (bukan domain cah ndeso, ujar bude Jamilah lagi)

Saya tidak tahu persis.mengapa program ini diberi nama "Kampanye" imunisasi MR?. Bukan Bulan Imunisasi MR misalnya, seperti Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio. Namun yang saya pahami kemudian setelah membaca kolom Jawa Pos ini, bahwa tersirat ada kompetisi dalam program ini. Capaian tiap wilayah akan dibandingkan, lalu dihare luas diberbagai media (medsos, atau lainnya). Tentu hal ini efektif meningkatkan kinerja di lapangan. Diantaranya karena terlecut semangat kompetisi. Berbagai terobosan dilakukan untuk mencapai target. Sistem akan bergerak meningkatkan cakupan.

Tentu yang harus dipastikan kemudian adalah validitas data cakupan dan sasaran.

Jika saya mengikuti cerita MR di Lumajang, dapat saya runutkan beberapa hal. Pada awalnya strategi Lumajang memang mengharuskan capaian pelan, tidak secepat Kabupaten Lain. Beberapa hal teknis turut mempengaruhi pemilihan strategi itu, misalnya terkait integrasi dengan program lain, dan pertimbangan teknis lainnya. Lumajang percaya diri dengan strategi ini, walau sebetulnya "sistem kompetisi" sangat mengusik. Sampai kemudian berita liar, hoax khas medos terkait isu kematian anak post MR menyeruak menyebar tak terkendali.

Isu hoax ini tidak secara cepat dapat diredam petugas di lapangan, diantaranya karena prosedur secara birokratis mengharuskan  pembagian level wewenang "hak jawab". Walaupun teknis dan referensi sebenarnya petugas di lapangan yakin dapat meng-counter hoax ini. Penjelasan resmi pusat yang kemudian muncul sudah sangat terlambat. Bude Jamillah bilang- sudah terlanjur terjadi "lost confident". Kita bisa melihat bagaimana sasaran MR baik di lingkup Posyandu, sekolah, bahkan ditingkat petugas sudah sangat tidak nyaman terhadap situasi yang ada. Mungkin belum pernah ada di wilayah lain, fenomena masyarakat berbondong minta surat keterangan sehat untuk memastikan anaknya memenuhi kualifikasi untuk diimunisasi. Bagaimana sekolah kemudian banyak yang mengedarkan inform consent ke wali murid terkait imunisasi MR (sesuatu yang sebetulnya tidak berlaku pada imunisasi massal. Bagaimana kemudian harus dilakukan sosialisasi ulang face to face, sekolah per sekolah, oleh petugas pada level yang lebih tinggi. Sesuatu yang sebelumnya mampu diatasi pada level Puskesmas. dan lain -lain .....

Namun apapun masalahnya, Dia pemilik skenario. Kita harus selalu khusnudhon terhadap rencanaNYa. Ada hikmah dibalik semuanya. Selalu optimis (sejak awal) menjalankan strategi dan rencananya, sampai 30 September 2017. Demi derajat kesehatan masyarakat, memenuhi hak setiap anak mendapatkan imunisasi, demi masa depan mereka. 

Sunday, February 1, 2015

Wakil Bupati Lumajang 2015

Catatan Sosok dan Pilihan Wakil Bupati Lumajang

Saat ini, setelah Bupati Sjahrazad Masdar meninggal dunia, berbagai pergunjingan ditengah masyarakat Lumajang terkait siapa sosok pengganti wakil bupati. Sebagaimana kita ketahui, setelah Bupati terpilih berhenti ditengah jalan karena berbagai sebab, maka prosedur secara otomatis menaikkan Wakil Bupati Lumajang (Drs. As'at Malik, M.Ag) menduduki jabatan Bupati,.dan jabatan wakil bupati pengganti beliau-lah saat ini yang ramai dipergunjingkan masyarakat Lumajang.

Beberapa tokoh dan sosok dari berbagai latar belakang dicoba disandingkan dengan Drs. As'at Malik. Setidaknya menurut beberapa media, tentu bukan didasarkan survey. Sebatas rasan-rasan. Pun demikian yang dilakukan bude jamilah dengan komunitas NTR (Ngrumpi Tanpa Referensi), yang beranggotakan ibu-ibu rumah tangga tulen disekitar rumahnya ini.

Sebetulnya Bude Jamilah dan komunitasnya masih diselimuti duka mendalam atas berpulangnya putra terbaik Lumajang, Bupati Sjahrazad Masdar yang dikenal sebagai sosok lurus dan cerdas ini. Namun sesuai tipikal ibu-ibu pada umumnya, mereka terusik juga oleh rasan-rasan soal wakil bupati ini. Pun sebagaimana umumnya ibu-ibu, beberapa pilihan mereka jatuh pada kriteria "kegantengan" sosok. Mengandaikan sosok wabub itu yang Aleando lah, yang Arjuna dalam serial Mahabharata lah, yang ganteng kalem serupa SBY lah, dan sosok khas doktrin infotainment lainnya yang terlanjur menghujam di benak mereka.


Dari berbagai seliweran nama dan sosok yang beredar, sebetulnya secara pribadi Bude Jamilah nge-fans sama dr. Buntaran yang Sekda itu. Disamping sosok dokter, pengalaman birokrasi beliau sudah mumpuni. Berbagai jabatan pernah diembannya. Dari Kepala Puskesmas, Kepala Bidang, Asisten Administrasi Sekretariat Pemda, Kepala Dinas, dan saat ini Sekretaris Daerah. Dan menurut catatan bude Jamilah, sosok lain yang sementara beredar belum satupun yang selengkap ini track pengalaman, kiprah dan karirnya.

Masih menurut Bude jamilah, yang menonjol dari dr. Buntaran saat ini adalah kemampuannya merangkul berbagai komponen masyarakat. Kegandrungan beliau pada gowes, diantaranya mampu menyatukan koordinasi dan hubungan personal yang lebih intens dan dinamis dari berbagai tingkatan birokrasi (tingkatan kepala sampai staf) di Kabupaten Lumajang. Bahkan menurut selentingan khabar, jajaran legislatif pun akan menjadi bagian didalamnya, dalam komunitas bike for fit,fun, and social community.

Logika sederhana Bude Jamilah membayangkan, jika wabub itu dr. buntaran, maka berbagai kebijakan dan tugas Bupati As'at Malik menjadi lebih aplikatif untuk dilaksanakan. Karena kekompakan perangkat birokrasi dibawahnya sedikit banyak sudah terbangun dan sinkron. Bude jamilah masih sedikit ingat teori koordinasi ketika ikut kelas paket c dulu, bahwa komponen koordinasi itu terdiri atas Komunikasi, Integrasi, Sinkronisasi, dan Mekanism. Dan itu, sedikit banyak, sudah terbangun di era Sekda dr. Buntaran ini.

Logika Bude Jamilah masih belum mampu "nggrayahi" arah dan kecenderungan pilihan Bupati As'at Malik. Karena hak prerogatif ada di Bupati. Namun Bude masih ingat betul bagaimana kompromi akhirnya dilakukan Gubernur Ahok di Jakarta ketika berhadapan dengan Parpol pengusung. Dan kelemah utama dr. Buntaran, karena beliau murni praktisi profesional, adalah pada basis politik di DPRD. Namun Parpol di DPRD Lumajang sebetulnya juga lemah pada kader yang praktisi profesional di birokrasi. Beberapa sosok yang disebut mereka, diantaranya sebetulnya juga alumni birokrasi (baca pensiunan). Memang pertimbangan politik tidak melulu soal kecakapan dan profesionalitas birokrasi, disana ada kalkulasi parpol (baca partai pengusung), kalkulasi basis massa keagamaan (seperti NU non NU, lainya), dan berbagai kalkuklasi lainnya yang (celakanya tidak mampu diurai Bude jamilah).

Wallohua'lam Bisshowab ...

Saturday, June 1, 2013

Pemenang Pilbub Lumajang

Pemenang Riil Pemilihan Bupati Lumajang

Jika ada pertanyaan siapa pemenang riil pilbub Lumajang? Maka salah satu jawaban favorit saya adalah sang master tink tank .. !!

Sebetulnya sejak hiruk pikuk dan simpang siur prosesi pesta demokrasi di Kabupaten Lumajang mulai cetar membahana, saya kurang tertarik menuliskannya. Entahlah rasanya masih terlalu banyak yang jauh lebih bernuansa priority berkecamuk dalam fikiran ini. Atau saya sudah sangat jenuh direcok dan cekoki gosip dan infotainment politik di jakarta sana, baik dengan bumbu manuver maupun dengan resep KPK. Dan semua secara massif di super blow oleh televisi, dan celakanya sedikit banyak saya tahu siapa shohibul bait media itu, sehingga nuansa jurnalism nya sangat identik dengan apa dan siapa dibalik sang pemilik. 

Kembali ke Pilbub Lumajang, dengan menyuguhkan empat pasangan calon, sebagai pemilih yang kata orang kebanyakan disebut mewakili masyarakat perkotaan (jika boleh saya menyebutnya sebagai pemilih rasional), tentu saya cenderung menjatuhkan pilihan pada pasangan SAAT. Intelektualitas pasangan ini lebih keren. Apalagi jika ukuran debat kandidat menjadi bagian indikator pemilih menjatuhkan pilihan politiknya, maka debat di JTV sedikit banyak telah menguatkan pilihan saya ini. Bagaimana visi Misi Sjahrazad dan gaya diplomasi runtut dengan pitch control maut gaya Gus As'at berhasil menohok peserta lain.


Namun sebagaimana kebanyakan kutukan keturunan lain di Indonesia, sebetulnya saya juga terkungkung pada kutukan keturunan itu dari aspek pemilih tradisional. Saya dilahirkan (dulu ketika jaman Almukharom Pak Harto masih sangat kuat), sebagai  keluarga oposisi tulen. Ketika orang sedesa saya sudah sejak lahir ta'zim berteduh di bawah pohon beringin, dan penganut madzab azas tunggal Pancasila, ibu dan keluarga saya sudah menenteng gambar Ka'bah dengan sangat militan. Ketika orang sedesa saya masih belum familiar dengan jilbab (ketika itu tahun 80-an), ibu saya sudah sangat militan menutup aurotnya ketika keluar rumah.  Kemudian ketika idola utuh saya Gus Dur mendirikan PKB, spontan keluarga ini menyokongnya dengan segenab fikirannya, karena memang roh keluarga sejak awal memang Nahdhiyin. Dan ketika sebagian pendidikan saya kemudian hari juga melalui kembaga keagamaan Muhammadyah, kemudian sempat menjadi simpatisan kuat partai keadilan (ketika itu), maka menjadi lengkaplah warna politik hidup ini.

(Namun yang keren untuk dicatat, fakta bahwa ayah tercinta saya sampai akhir hayat beliau Insya Allah masih setia pada Golkar. Bukan karena kalkulasi politik yang bertele-tele, namun karena guru thoriqot beliau, - yang terhitung masih keluarga dekat, yang mangku pondok pesantren lumayan berpengaruh di Magetan sana - adalah Golkar .. !! - Mungkin yang belum hinggap pada fakta sejarah tradisionil saya adalah PDI.  Namun saya selalu masih mengidolakan kebesaran dan aura inspiratif Bung Karno).

Latar belakang diatas menjadi ikut mewarnai pandangan saya terhadap pasangan calon Bupati lainnya. Sebagaimana kita ketahui basis Lumajang memang Nahdiyin. Dan semua pasangan calon sepertinya sangat memahami ini, sehingga pertimbangan faktor tradisional ini mempunyai bobot dan nilai tinggi pada rekrutment pasangan calon.

Dan jika mengacu semua latar belakang diatas, maka posisi semua calon sepertinya mempunyai kadar toleransi sama di mata saya, dari aspek tradisionil ini.

Semula sebagai mana predksi banyak orang, persaingan ketat akan terjadi pada pasangan SAAT dan ARIF. Pertama dukungan mesin partai. Sebagai partai pemenang pemilu lalu, PDI perjuangan yang mengusung Agus Yuda diprediksi akan mulus menggandeng pemilih tradisional mereka. Hal ini masih ditambah dengan faktor KH Adnan Syarief yang dikenal sangat senior pada basis pemilih tradisional NU. Sementara pasangan SAAT dengan sederet keuntungan sebagai incumbent dan aspek intelektualistasnya, masih punya faktor Ke Nahdhiyinan Gus As'at.

Yang tidak diprediksi jeli oleh sebagian besar orang, termasuk saya, adalah kekuatan ASA. Jika melihat riil diatas kertas, orang akan dengan mudah tidak meliriknya. Pertama karena kendaraan pengusung mereka (PKB) masih kronis dengan masalah lama terkait aspek legalitas.  Kondisi mana diperkuat dengan dikeluarkannya keputusan PTUN Surabaya terkait gugatan kubu Rofiq, maka lengkaplah semua aspek yang menjadikannya pasangan yang kurang diperhitungkan.

Kalkulasi diatas kertas memang lain dengan kalkulasi bawah kertas. Hampir mayoritas orang Lumajang tahu siapa grand master dibalik pasangan ASA. Namun sepertinya sebagian besar mereka (termasuk saya) kurang bisa memprediksi seberapa fight dan niat bertempur sang suhu ini. Kaliber keahlian yang sangat jarang orang bisa memiliki ini, mungkin sudah sunnatullah, garis alam, dan rangkaian indah pasangan genetis turun temurun sang grand master. Diam-diam fenomena ini sangat menarik minat saya. Dalam hati kecil saya, suatu saat saya ingin menyusun biografi sang suhu.

Kembali ke Pilbub Lumajang, sebagaimana kita tahu semua perhitungan buyar ketika quick qount dua lembaga survey menempatkan ASA sebagai pemenang Pilbub Lumajang. Namun kemenangan mereka sepertinya masih dalam batas margin signifikansi eror kesalahan prediksi, sehingga apapun masih bisa terjadi. Apalagi banyak lembaga memastikan riil count SAAT setelah itu.

Pada awal masuknya ASA ke pusaran persaingan ini, prediksi naif saya mengatakan, bahwa yang akan diuntungkan adalah SAAT. Basis suara ARIF akan tergerus oleh sistem mereka (bukan basis SAAT). Namun ketika melihat begitu sistemiknya kantong suara ARIF semburat, saya menjadi berfikir kecerdasan orang dibalik gerakan ini. Saya menjadi berfikir, realitas sosial di desa-desa Lumajang. Mengapa desa? Karena gerakan ASA tidak mampu mengusik kawasan kota. Atau justru sang master plan sengaja melepas kota dengan segala kalkulasinya?

Lalu siapa sebetulnya pemenang pilbub Lumajang ?

Pemenang Pilbub Lumajang adalah sang suhu ... !! Seperti selentingan khabar dari mulut ke mulut, bahwa sebetulnya beliau tidak perduli terhadap pemenang pilbub ini, bahwa sebetulnya beliau justru memegang lawan ketika melakukan deal dengan lawan, bahwa sebetulnya sang kandidat pun sudah bertekuk lutut masuk skenario beliau, dan lain-lain khabar yang dibawa burung. Namun melihat gelembung pemuaian suara ASA yang mencengangkan, mungkin bisa dikalkulasi juga, bahwa beliau tidak bergerak business is busines. bahwa pergerakan massif beliau jauh diujung harapan juga memberi harga besar pada lahirnya kehormatan trah keluarga pada perebutan derajat dan pangkat ini. Dengan kata lain, makna gerakan ini bukan hanya murni business, tapi juga nilai tinggi pemenang pilbub pada aktualisasi diri. .. Wallahu A'lam Bishowab ...

After all, apapun yang terjadi, Lumajang harus tetap berlari  ....

Lumajang, 12 Rajab 1434 H

Thursday, December 15, 2011

Kesehatan Lingkungan Kabupaten Lumajang

Trend Menggembirakan Kesehatan Lingkungan Kabupaten Lumajang

Perkembangan dan update pencapaian Kabupaten Lumajang dalam bidang kesehatan lingkungan dan sanitasi memang selalu menggembirakan. Di tingkat Propinsi Jawa Timur, bahkan Nasional, capaian Kabupaten Lumajang selalu menjadi rujukan. Penggerakan masyarakat dengan output swadaya masyarakat dalam bidang pembangunan sarana dan prasarana sanitasi, khususnya jamban menjadi “jujukan” wilayah lain untuk melakukan studi banding.

Deklarasi ODF Kec. Pasrujambe
Sebelum tulisan ini kita lanjutkan, ada baiknya kita singgung sekilas pengertian sanitasi dan kesehatan lingkungan. Beberapa ahli memberikn defenisi, bahwa kesehatan lingkungan adalah ilmu multi disipliner yang mempelajari dinamika hubungan interaktif antara sekelompok manusia atau masyarakat dengan berbagai perubahan komponen lingkungan hidup manusia yang diduga dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat dan upaya untuk penanggulangan dan pencegahannya.

Sedangkan pengertian sanitasi menurut Ehler dan Steel (1958) adalah sebagai usaha untuk mencegah penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai penularan penyakit tersebut. Menurut Riyadi (1984), sanitasi lingkungan adalah prinsip-prinsip untuk meniadakan atau setidak-tidaknya menguasai faktor-faktor lingkungan yang dapat menimbulkan penyakit. Sementara organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) memberikan batasan sanitasi yaitu pengawasan penyediaan air minum masyarakat, pembuangan tinja dan air limbah, pembuangan sampah, vektor penyakit, kondisi perumahan, penyediaan dan penanganan makanan, kondisi atmosfer dan keselamatan kerja.

Tahap dan momentum perkembangan sanitasi dan kesehatan lingkungan di Kabupaten Lumajang dimulai ketika Lumajang menerapkan metode Community Led Total Sanitation (CLTS) sebagai sebuah metode pemberdayaan masyarakat, yang kemudian terbukti mampu meningkatkan  akselerasi akses masyarakat pada penggunaan jamban sebagai satu satunya sarana buang air besar secara signifikan. Metode ini kemudian diperkuat dengan mengaplikasikan pendekatan marketing sanitasi untuk mencukupi demand jamban sehat yang meningkat. Pendekatan yang biasa digunakan sales promotion girl (SPG) dalam memasarkan suatu produk ini, ternyata mampu diterapkan pada pemasaran jamban sehat di masyarakat, sehingga lahirlah beberapa pengusaha jamban dengan ribuan jamban berhasil terjual.

Selama dan setelah proses diatas berlangsung, pencapaian status Open Defecation Free (ODF), banyak dicapai, bahkan di tingkat Kecamatan. Status ODF merupakan output utama gerakan total sanitasi, dan merupakan indikator utama keberhasilannya. Status ini ditandai , antara lain jika sebuah komunitas, pada tingkat terendah atau di tingkat Kecamatan, seluruh masyarakatnya sudah berperilaku hanya buang air besar di jamban. Dan sebagaimana kita tahu, selama puluhan tahun Indonesia merdeka, sampai detik ini perilaku berak di sembarang tempat masih menjadi pemandangan umum di tengah masyarakat (di sungai, kebun, dan lain lain). Dan merubah perilaku buang air besar itu, ternyata jauh lebih sulit dibandingkan, misalnya, dengan merubah perilaku komunikasi dengan penggunaan hand phone di masyarakat. Sesuatu yang tidak lagi menjadi perdebatan, bahwa dampak ikutan buang air besar sembarangan, sangat serius terhadap penularan berbagai macam penyakit di masyarakat (sementara dampak radiasi gelombang mobile phone masih sangat debatable ... )

Terkait dengan mukadimah tulisan diatas, berikut kami share update terakhir, perkembangan pencapaian status Open Defecaation Free Kab. Lumajang, yaitu di kecamatan Pasrujambe dan Pronojiwo.

Open Defecation Free Kecamatan Pasrujambe.
Setelah beberapa tahun sebelumnya berhasil dengan gebrakan membangun “seribu seratus sebelas jamban selesai sehari”, dan mencatatkan wilyahnya dalam rekor MURI untuk kegiatan tersebut, maka pada tanggal 6 Desember 2011, Kecamatan yang sama berhasil mendeklarasikan diri sebagai kecamatan ODF ke lima di Kabupaten Lumajang.

Perkembangan cakupan akses jamban di Kecamatan Pasrujambe sejak Desember 2009 – baik improved, unimproved, maupun sharing – sudah pada angka ± 93%. Dan dengan berbagai pendekatan, pada saat deklarasi ini dilakukan penambahan akses yang tercatat sebesar 1268 KK.  Sebetulnya masing-masing desa akan selalu mempunyai karakter masalah yang berbeda untuk mengentaskan masyarakatnya dari perilaku buang air besar di sembarang tempat, namun pada akhirnya mereka berhasil mengatasinya dengan pendekatan sesuai spesifikasi karakter dimaksud.

Sebagaimana cerita-cerita sukses Kecamatan ODF lainnya, di Pasrujambe,  catatan khusus sangat layak diberikan kepada Peran Camat kepala wilayah setempat. Beliau bersama-sama dengan Muspika Kecamatan (Danramil dan Kapolsek), tiada henti bergerak dan menggerakkan perangkat Desa, Posyandu, dan PKK, sehingga semangat ODF itu selalu terjaga menyala di tengah masyarakat. Kita juga mencatat, bahwa pada detik-detik akhir Deklarasi ODF ini, Program Sanimas turut berperan dan mewarnai perjalanan ODF di Kecamatan Pasrujambe ini.

Deklarasi Open Defecation Free (ODF) Kecamatan Pronojiwo
Deklarasi ODF Kecamatan Pronojiwo - Tanggal 12 Desember 2011 menjadi momentum dan pelopor wilayah ODF di sisi selatan Kabupaten Lumajang. Sebagaimana kita ketahui, wilayah ODF sebelumnya ada di sisi barat (Kecamatan Gucialit, Senduro, Padang, Pasrujambe) dan sisi utara (Kecamatan Kedungjajang). Tentu harapan besar, sebagaimana diungkapkan Wakil Bupati Lumajang pada sambutan ODF ini, kecamatan di wilayah selatan lainnya akan segera kerkena dampak replikasi dan menjadi ODF (Kecamatan Tempursari, Candipuro, Pasirian, dan Tempeh). Pelan namun pasti Insya Allah, 21 Kecamatan di Kabupaten Lumajang akan mewujudkan Kabupaten Lumajang ODF.

Deklarasi ODF Kec. Pronojiwo
Kecamatan Pronojiwo dengan jumlah rumah 8.358 buah dengan 9.106 kepala keluarga, terdiri dari 6 Desa, masing- masing Desa Pronojiwo, Sidomulyo, Tamanayu, Sumberurip, Oro-Oro Ombo, dan Supiturang. Sesuai hasil verifikasi ODF, dibandingkan dengan base line data akses jamban, terjadi penambahan sekitar 20% akses jamban improved (1.392) dan 34% akses jamban sharing (461), sehingga deklarasi ODF dilakukan pada tanggal itu. Dan pencapaian ini melengkapi wilayah ODF di Kab. Lumajang menjadi 6 Kecamatan dengan 67 desa ODF.

Peran Tim STBM kecamatan (dengan motor penggerak utama Camat dan kepala Puskesmas) – telah menjadi tim solid yang efektif menggerakkan kegiatan sanitasi total di pelosok desa dan Posyandu. Mereka berhasil mengurai setiap masalahan sesuai potensi masing-masing wilayah. Dan perjalanan itu tidak sebentar, sampai ODF ini dideklarasikan. Beberapa Posyandu yang sulit bergerak, mereka dekati dengan berbagai trik dan inovasi, mereka juga memanfaatkan program Sanimas  (Dinas Pekerjaan Umum), untuk menambah akses (tentu dengan pertimbangan teknis yang mendukung).

Deklarasi ODF Kecamatan Pronojiwo sendiri dilakukan di lapangan Desa Sumberurip, yang berlatar belakang Gunung Semeru. Gunung tertinggi di Jawa ini, terlihat begitu dekat di lokasi deklarasi, kokoh menjulang tinggi. Sedangkan seremonial dimulai dengan sambutan kedatangan tamu undangan oleh marching band pelajar Kec. Pronojiwo. Kemudian diikuti sambutan Camat Kepala wilayah, pembacaan naskah deklarasi oleh Kepala Desa dan Ketua Tim Penggerak PKK Desa se wilayah Kec. Pronojiwo, sambuatan Wakli Bupati Lumajang, dan ditutup dengan pentas kesenian tradisional Ludruk. Setting panggung utama deklarasi merupakan pangung pentas seni, dan itu memang ide kreatif tingkat lokal (panitia Kecamatan).

Video lengkap Deklarasi Open Defecation Free (ODF) Kecamatan Pronojiwo, dan Pasrujambe Kab. Lumajang

Video ODF Pronojiwo http://youtu.be/f8gvbOnWPnM

Tuesday, November 2, 2010

Membandingkan DR. Sjahrazad Masdar dengan DR. Sri Mulyani Indrawati

Korban Kebijakan ?

Baru kali ini Bude Shokilah tertarik masalah politik dan hukum. Sesuatu yang mengusik fikiran beliau, sebetulnya sudah lama dipendamnya, sejak kasus ini mencuat dan menjadi hangat di Lumajang. Masalah yang menimpa mantan pelaksana tugas Bupati Jember yang saat ini Bupati Lumajang, DR. Sjahrazad Masdar MA. Bagi beliau masalah itu identik dengan Kasus Century yang menimpa DR. Sri Mulyani Indrawati. Keduanya sama-sama sangat bernuansa politis, keduanya sama-sama berbau kebijakan, keduanya sama-sama bernuansa konsekuensi!

sri mulyani

Agar sedikit lebih keren dan “ndakik-ndakik”, Bude Shokilah mencoba mencoba googling dan dicantumkanlah pengertian KEBIJAKAN menurut beberapa hikayat berikut :

  1. Kebijakan sebagai pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (whatever government chooses to do or not to do) - Thomas Dye.
  2.  
  3. Kebijakan pemerintah sebagai “kekuasaan mengalokasi nilai-nilai untuk masyarakat secara keseluruhan.” - Easton
  4. Kebijakan sebagai program yang diproyeksikan berkenaan dengan tujuan, nilai dan praktek (a projected program of goals, values and practices).(Lasswell dan Kaplan)
  5. Yang paling pokok bagi suatu kebijakan adalah adanya tujuan (goal), sasaran (objektive) atau kehendak (purpose).- Carl Friedrich
  6. Kebijakan merupakan ilmu sosial terapan yang menggunakan berbagai metode untuk menghasilkan dan mentransformasikan informasi yang relevan yang dipakai dalam memecah persoalan dalam kehidupan sehari-hari - William Dunn - (Article source Kebijakan Publik, Said Zainal Abidin,Yayasan Pancur Siwah, Jakarta.

Bude Shokilah mencatat, bahwa kebijakan lebih dapat digolongkan sebagai suatu alat analisis daripada sebagai suatu rumusan kata-kata. So, jika berpijak dari sini, analisis sederhana beliau sejak awal sebetulnya yakin, bahwa yang dilakukan DR .Sjahrazad Masdar dan DR .Sri Mulyani seharusnya sangat tidak tepat jika masuk ke rumah pidana. Keduanya punya rumah “kebijakan publik”, dan rumah itu bernama PTUN.

 

Istilah ”publik” dalam rangkaian kata public policy mengandung tiga konotasi: pemerintahan, masyarakat, dan umum. Ini dapat dilihat dalam dimensi subyek, obyek, dan lingkungan dari kebijakan kata Bude sambil bersungut-sungut.

 

Mengapa demikian? Ya, karena sejak awal tidak secuil pun fakta didapat, entah tentang memperkaya diri sendiri, tentang merugikan keuangan negara, pun korupsi! Jika dalam perjalanan penerapan kebijakan terjadi korupsi dan penyelewengan anggaran, ya yang terbukti melakukan itu yang sangat pantas masuk ranah pidana. Ibarat membasmi tikus, jangan dilakukan dengan membakar rumah. Dan rumah itu bernama kebijakan. Karena jika itu dapat dilakukan, akan berbondong-bondong lah para pejabat (baca - abdi masyarakat) masuk bui. Dan kita akan krisis eselon! Begitu kira-kira logika sederhana bude kita ini.

 

Test case dari kejadian ini sudah memakan korban, DR. Sri Mulyani Indrawati. Wanita sangat anggun dengan pancaran kecerdasan dan idealisme ini, terlanjur direngkuh World Bank. Dan hiruk pikuk Century versi DPR kita pun lemah lunglai, karena memang asbabun nuzulnya sudah pergi. Asbabun nuzul itu bernama Sri Mulyani atas nama daya tawar, dan semuanya memang habitatnya politik.

Namun bagi Bude Shokilah, menjadi salah satu orang penting di Bank Dunia jelas menunjukkan, Jeng Sri bukan sembarang orang. Kita sangat minim stok manusia dengan kualifikasi Bank Dunia (namun berlimpah stok untuk Bank Akherat?).

Di Lumajang test case serupa (tapi tak sama) dialami Bupati. Asbabun nuzulnya juga politis. Namun tidak seperti DR. Sri Mulyani yang cukup digelarkan sidangnya di gedung DPR, masalah ini terlanjur disidangkan di Pengadilan Negeri. Berangkatnya juga sama, dari rumah “kebijakan”. Di kemudian hari implementasinya ternyata berbau korupsi. Dan itu jauh hari setelah kebijakan awal dibuat, jauh hari setelah pembuat kebijakan pergi. Logika awam Bude Shokilah, mengapa urusan kebijakan di sidang pidanakan, padahal minim alibi? Memang, bisa saja kebijakan dan hukum di “centeng pereneng-kan” (baca: multi tafsir), sehingga “otak atik matuk”. Next story, syukurlah keputusan hakim setali tiga uang dengan prediksi Bude, Bebas Murni.

 

“ Tetapi apa yang dilakukan Masdar, menurut majelis hakim tidak merugikan keuangan negara ataupun ada penyelewengan jabatan. Dengan pertimbangan itu, majelis hakim membebaskan Masdar (detik.com)”.

 

Di mata Bude Shokilah, Kita memang masih selalu mencari bentuk. Sebelum jaman reformasi, di jaman Presiden Soeharto, kita lumayan punya bentuk. Bentuk itu kocar-kacir di jaman reformasi, hingga saat ini kita masih belum berbentuk .....

Sunday, October 24, 2010

Media Massa Kita

Merindukan Koran Soeharto ?

 

Pernah ditulis di blog ini, bagaimana seksi dan exellent dinamika sosial di sekitar kita. Minimal kita gampang menyimaknya dari banyak media massa yang ber libido tinggi. Mereka, dengan sekali sentil sudah sangat terangsang untuk menulis dan memberitakan berbagai hal. Mulai dari yang berbau gosip, setengah nyata, sampai yang faktual. Maka, bertebaranlah disekitar kita dinamika sosial itu. Gosip perceraian dan perselingkuhan tokoh, hukum, sosial, politik, hampir di geber setiap hari. Berita aib di umbar, berceceran di setiap lekukan ketiak kita. Aromanya menyengat disetiap jengkal tanah pertiwi. Media kita memang sudah “sangat paparazzi” .... ehm.Suharto

 

Anda mungkin pernah merasakan. Atau, anda mungkin justru pernah mengamati. Aroma keburukan dan dengki selalu merasuk, setiap kita membaca koran, mendengarkan radio, dan melihat tayangan televisi. Dan anehnya, kita selalu ketagihan untuk selalu mengumbar dan berburu berita itu. Pasar mereka memang masih sekelas dengan pasar kita.

 

Membaca pernyataan salah satu pakar (Detik.com), tepat pada peringatan 1000 hari mantan Presiden Soeharto, bahwa rakyat merindukan suasana era Soeharto, dan bukan pada sosok Soeharto, mungkin BENAR adanya. Rasa dendam dan dengki pada saat itu, minimal, tidak di obral kepada rakyat oleh media, setiap saat, setiap waktu.

 

Pada saat itu, melalui media kita selalu disuguhkan kepada berita baik, berita keberhasilan, berita gotong royong, berita PEMBANGUNAN! Walaupun bagi sebagian besar penganut madzab HAM dan Demokrasi, era itu akan dukuliti habis dengan beribu lembar tesis dan buku. Namun tidak bagi Bude Jamillah, dan berjuta teman bude lainnya. Saat itu, ada sesuatu yang sedikit menentramkan saat membaca media , walau juga sedikit kebosanan.

 

Saat ini, kita sulit mendapatkan berita-berita itu. Media kita selalu dan selalu berisi kritik, makian dan gosip! Jarang kita melihat pujian dan kebaikan mereka muat. Ambil contoh gampang, setiap yang dilakukan Presiden SBY, akan selalu istikhomah disambut media dengan kritik dan hujatan. Dan media dengan istikhomah pula mengambil “pakar” atau nara sumber wawancara yang dari “sono” nya sudah tidak punya kosa kata halus. Itu presiden, apalagi Bude Jamillah ... !

 

Masyarakat pembaca, pendengar dan pemirsa media kita mungkin memang “enjoi” atau “sumpek” menerima suguhan media kita. Masih perlu rapid survey, begitu ujar Bude Jamillah. Namun potret jelas sudah tergambar di peta sosial kita. Kata pakar juga, masyarakat kita sudah kehilangan jati diri dan karakteristik bangsa. Setiap hari kita melihat, mendengar, dan membaca (dari media juga), orang saling sikut dan injak berebut zakat, saling bunuh karena secuil rupiah, saling bakar, saling umpat. Rasa gotong royong dan empati raib di mangsa keserakahan, dendam kesumat, dan makian.

 

Atau itu istikhomah andil media juga bude ? ..... Wallohu a’lam ...

MANISNYA BUAH SWADAYA

Potret Swadaya Paguyuban Air Bersih di kabupaten Lumajang

 

Sebagian besar pendapat menyatakan, roh pembangunan itu partisipasi publik. Pemberdayaan masyarakat sering menjadi momok. Banyak orang bilang, sulit menggerakkan masyarakat. Itu dapat berarti tingkat partisipasi rendah.clip_image002

Jika kenyataan sebagaimana diatas, dapat berarti pendekatan pembangunan menjadi single fighter, atau bertepuk sebelah tangan. Bude Jamillah bilang, menjadi top down. Satu istilah yang sejak era reformasi menjadi tabu di gunakan. Dan konsekuensinya kita diserbu pola pendekatan partisipatif dalam segala hal model pembangunan. Dan sekali lagi, keluh kesah sebagaimana diatas sangat sering kita dengar.

 

Namun anomali partisipatif dengan mudah kita jumpai di komunitas ini. Sebuah komunitas Unit Pengelola Sarana Air Bersih yang menamakan dirinya Paguyuban Air Bersih TIRTO MANDIRI. Di paguyuban ini roh partisipatif sangat kuat dan menjadi denyut kegiatan Paguyuban.clip_image002

 

Bayangkan, dengan swadaya mereka, tanpa secuilpun bantuan mereka minta, mereka mampu menghimpun dana ratusan juta. Secara fenomenal mereka mampu mencukupi kebutuhan air bersih bagi sebagian besar masyarakat pada Paguyuban mereka.

 

Mereka berburu sumber air bersih hingga masuk ke wilayah kabupaten tetangga, Probolinggo. Mereka merentang paralon lebih dari 20 kilo meter, dari ujung sumber melewati Lima Desa di Tiga wilayah kecamatan (Gucialit, Padang dan Kedungjajang)

 

Kilas balik,

Desa Dadapan : Pada awalnya, setelah melakukan survey tingkat kebutuhan dan akses sumber air, serta rencana jalur distribusinya, mereka menyepakati sistem paket untuk pembiayaan pembangunan sistem distribusi air bersih ini. Paket yang dimaksud berupa sistem pembiayaan dan jaringan distribusi air bersih pada masyarakat atau kelompok, dimana 1 paket terdiri dari 4 Rumah dengan swadaya per paket Rp. 3.500.000. pada tahap ini berhasil didapatkan 60 paket. Dengan sejumlah paket ini, masyarakat desa Dadapan Kec. Gucialit berhasil menghimpun dana sebesar Rp. 3.500 000 x 60 = Rp. 210. 000. 000. Mereka mampu mengalirkan air dari sumbernya hingga ke kelompok – kelompok ini sejauh 24 km.clip_image002[10]

Untuk menekan kekurangan anggaran, kemudian berhasil disepakati bersama masyarakat alternatif jalan keluarnya, yaitu dalam bentuk kerja bhakti penggalian pipa. Kerja bhakti bergotong royong dalam penggalian pipa distribusi ini kemudian diatur mekanissme dan jadwalnya pada masing-masing dusun dan RT, lengkap dengan detail kontribusi dan sanksinya. Misalnya jadwal dan bentuk kontribusi konsumsi dan paket kerja bhakti bagi masyarakat yang tidak bisa hadir pada saatnya.

 

Dalam waktu lebih kurang dua bulan gotong royong dan swadaya ini berjalan, masyarakat sudah bisa menikmati air bersih yang dibangun secara mandiri itu. Kemudian secara simbolis keberhasilan ini diresmikan dengan memberikan nama kelompok ini dengan Unit Pengelola Sarana Tirta Mandiri (air bisa mengalir tanpa bantuan pemerintah).

 

Setelah keberhasilan pembangunan tersebut, paguyuban Tirto Mandiri kemudian melakukan pembangunan sarana air bersih lainnya. Pembangunan kali ini dilakukan dengan bekerja sama dengan paguyuban Air Bersih Tirta Lestari. Paguyuban Tirto Lestari adalah sebuah paguyuban yang menghimpun sekaligus sebagai wadah kerja sama UPS air bersih se Kabupaten Lumajang.

Proses Air Mengalir sampai jauh

Dari kerja sama tersebut berhasil membangun jaringan distribusi air bersih lintas kecamatan dan lintas kabupaten yang dilakukan secara murni swadaya masyarakat. Lokasi yang dilalui jaringan ini membentang dari lereng wilayah Tengger Kab. Probolinggo, sebagai letak lokasi sumber mata air, yang dialirkan ke desa-desa di wilayah tiga kecamatan, masing-masing kecamatan Gucialit, Padang dan Kedungjajang. Panjang jaringan terbangun lebih kurang sepanjang 17 KM, dengan nilai swadaya sekitar 600 juta.

 

Pada tahap berikutnya dilakukan pembangunan secara swadaya dengan sasaran 33 kelompok dari 5 desa (Gucialit, Dadapan, Kalisemut, Meraan dan Krasak) yang melibatkan 3 Kecamatan dengan perkiraan jaringan ± 15 KM. Perkiraan biaya yang dibutuhkan adalah sekitar 214,5 Juta belum termasuk untuk tenaga kerja. Jika dengan ongkos tenaga kerja diperkirakan hampir sama dengan biaya pada tahap I.

 

Jaringan distribusi diatas kemudian diwadahi dalam bentuk paguyuban air bersih yang diberi nama Tirta Tri Tunggal yang diresmikan oleh Bupati Lumajang Dr. Sjahrazad Mazdar, MA di desa Kalisemut Kecamatan Padang.

 

Hingga detik ini, kiprah paguyuban diatas masih sangat menjanjikan. Swadaya dan partisipasi mereka sudah sangat jelas menjelaskan “tangan diatas lebih baik daripada tangan dibwah”. Dan pemerintah tidak lagi dipusingkan dengan konsep top down atau bottom up. Mereka sudah bekerja dan bertanggung jawab pada diri mereka sendiri .... dan pemerintah akan sangat mudah mencari celah untuk lebih menumbuh kembangkan kiprah mereka ....

Saturday, October 9, 2010

Dahlan Iskan Direktur PT KAI

Dahlan Iskan Direktur PT Kereta Api Indonesia

Melihat perkembangan dan carut marut PT KAI akhir-akhir ini, mbok de Jamillah terusik juga untuk ikut bersilat lidah. Dia fikir bukan hanya rekan DPR yang rajin melakukan hal itu untuk menaikkan daya tawar, seperti menyambut Kapolri baru kemarin. Namun pendapat Mbok de Jamillah memang tidak mempunyai nilai jual dan tidak akan menaikkan daya tawar siapa-siapa. Pendapat ini hanya sekedar memanfaatkan celah legalitas undang-undang yang menjamin kebebasannya bagi setiap warga negaranya.
kereta api kecelakaan
PT KAI, perusahaan ini mewarisi sebagian besar aset dan sarana prasarananya dari jaman penjajahan kompeni. Mulai dari rel dan akses pendukungnya, jaringan stasiun, dan sebagainya membentang dari ujung Jawa sampai ujung Sumatra. Aset mereka melimpah lengkap dengan budaya pengelolaannya, sehingga sebagian aset berupa jalur kereta dengan akses pendukungnya di beberapa wilayah tidak lagi mampu dikelola. Aset ini kemudian disewakan, dan gegap gempitalah para penyewa menyulap areal ini dengan bentuk bangunan beraneka warna (di sepanjang bekas jalur kereta). Pun sebenarnya para penyewa ini tidak secuilpun punya kepastian pada masa depan status tanah mereka. Potret PT KAI masih buram di banyak sisi. Berita anjlognya kereta dari jalur rel mereka, kereta salah masuk jalur, kereta menghantam kendaraan lain di luar persimpangan jalan raya, dan lain-lain.
Dahlan-Iskan
Bude Jamillah maklum, penyakit akut BUMN memang masih menjadi trend, dan belum mampu direhabilitasi. Bahkan banyak diantaranya yang terpaksa diamputasi, entah dengan nama merger atau akuisisi. Memang ada juga yang sehat wal afiat dan maslahat, sebut diantaranya milik per-bank-kan dan lembaga keuangan lainnya.

Satu diantara banyak perusahaan yang mengusik minat Bude Jamilah adalah PLN. Perusahaan monopoli setrum ini walaupun masih jauh untuk dikatakan sehat (dengan subsidi per tahun masih ber trilyoon-trilyoon), di mata beliau sangat seksi. Bukan karena loss setrum dan ledakan travonya. PLN seksi karena terlihat “nyata” punya usaha dan terget menambah dan menyetabilkan strom. Dan yang lebih seksi usaha mereka sangat manis dikampanyekan kepada publik, melalui berbagai tulisan dan laporan big boss mereka, Al-Mukharrom Dahlan Iskan di media massa.

Dengan keseharian bergelayut di dunia jurnalis, sebagai CEO berbagai media, sang Dirut ini tahu betul bagaimana memperlakukan publik. Dengan pola fikir dan program kerja PLN mengalir lancar di baca publik, berbagai byar-pet listrik menjadi cair diterima masyarakat. Artinya kita tahu duduk persoalan mereke, karena sedikit banyak “jerohan” persoalan diketahui publik, so kita akan sedikit mudah di buah maklum.

Kembali ke Kereta Api. Andai PT KAI sementara di berikan Al Mukharrom Dahlan Iskan, bude Jamillah membayangkan, peta persoalan per kereta apian akan sangat taktis disusun lengkap dengan detail rencana kerja dan targetnya. Dan yang lebih seksi, semua mengalir lancar di terima publik melalu tulisan-tulisannya. Next .... Dahlan Iskan + Public Relation = Seksi abis .....