Akselerasi Kampanye MR Ala Lumajang


Masih soal Measles rubella, pada tulisan terdahulu "Kompetisi" Kampanye MR", bagaimana diyakinkan bahwa kesimpulan "memble" yang ditulis salah satu kolom Jawa Pos pada capaian MR Lumajang,  terlalu prematur.

Delapan hari kemudian, per 30 September 2017, capaian proyeksi Lumajang tepat pada posisi 99,47%. Hampir klop dengan estimasi Bude Jamillah (waktu itu) dengan melihat trend harian dan akselerasi yang telah dengan sangat luar biasa dilakukan petugas di lapangan.

Pada akhirnya Pakde Parto yakin bahwa Jatim Oke Lumajang Memble hanya soal diksi rima pantun (oke-memble). Bukan soal lain. Seharusnya bisa juga sih dipilih oke dan kurang kece, atau oke - kurang sae, lanjut Pakde sedikit bersungut.

Antrian MR Mengular sampai luar rumah sakit
Kampanye imunisasi MR yang dicanangkan di Jogja oleh Presiden Joko Widodo, 1 Agustus 2017, dilaksanakan serentak diseluruh propinsi di pulau Jawa pada bulan Agustus dan September 2017 ini. Pun demikian di Lumajang Jawa Timur. Dengan latar belakang persoalan yang mendera, hari-hari terakhir kampanye MR di  Lumajang menyisakan banyak cerita. Khususnya diseputar upaya akselerasi cakupan yang dilakukan seluruh pihak untuk mempercepat capaian. Memastikan seluruh sasaran telah mendapatkan imunisasi MR.

Pada minggu-minggu terakhir itu peran penting sangat dirasakan dari tim dokter spesialis anak. Sangat mobile bergerak pada lokasi-lokasi (sekolah, Ponpes, atau tempat lain) dimana keraguan masih tinggi. Baik karena hoax keamanan vaksin, kontra indikasi, isu halal haram atau sebab lain. Tim ini full support. Dari sosialisasi advokasi ulang sampai dengan konseling sasaran. Bahkan salah satu tim berseloroh bilang telinga sampai "mendenging" karena stetoskop terus tercekat hinga ratusan pasien dalam sekali waktu.

Disudut lain, sehari sebelum deathline masa kampanye MR, ratusan orang mengular di salah satu rumah sakit swasta di Lumajang. Satu hal yang pasti, karena konseling dilakukan oleh tenaga yang sangat dipercaya (dr.Spesialis).Berduyun rela antri untuk mendapatkan imunisasi MR untuk putra-putri  mereka.  Sesuatu yang seharusnya dengan sangat mudah mereka dapatkan di sekolah, posyandu, atau Puskesmas dekat rumah tinggal mereka. Tanpa mengantri, petugas mendatangi mereka. Vaksin nya sama persis. Satu pabrik dengan yang di rumah sakit. Bahkan tim vaksinatornya sama.  Pakde Parto baru "ngeh" bagaimana medsos sangat efektif berpengaruh pada psikologi sosial, apapun yang dibawa.


Siang itu juga diterima permintaan tambahan vaksin MR dari rumah sakit umum Dr. Haryoto. Ternyata persediaan vaksin secara cepat menipis karena  pasien jauh lebih banyak dari estimasi. Berjubel masyarakat dari berbagai kecamatan rela mengantri untuk imunisasi MR. Selama masa kampanye, rumah sakit ini menerima rujukan imunisasi (karena kontra indikasi, atau sebab lain) dari seluruh wilayah. Namun dua hari terakhir itu, tidak sebatas pasien rujukan yang datang. Sebagian besar juga karena lebih "mantep" memilih jika imunisasi di lakukan di rumah sakit.Sebagian besar dikoordinir desa dan Puskesmas. Sebagian lain datang secara mandiri.

injury time MR campaign
Tidak hanya di rumah sakit, pun di Puskesmas Kota, terjadi antrian ratusan masyarakat berbondong memanfaatkan detik-detik terkahir masa kampanye. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Petugas  sigap melayani. Sesuatu yang sudah biasa mereka lakukan bahkan berminggu sebelum ini,setiap hari. Sebagai limpahan berbagai pos pelayanan di Posyandu, PAUD, TK, SD, dan SMP. Karena sedang sakit pada saat jadwal MR di sekolah, karena ragu-ragu, atau sebab lain.

Sekali lagi Pakde Parto teringat fenomena (dua minggu sebelumnya), dimana masyarakat berbondong minta surat keterangan sehat hanya untuk memastikan anaknya memenuhi kualifikasi untuk diimunisasi.Karena isu dan hoax.

Dari petugas lapangan juga diterima upload foto pelaksanaan imunisasi MR malam hari pada beberapa pos. Sungguh belum pernah terjadi sebelum ini, pembagian shift kerja imunisasi pada malam hari.

Yang juga secara intens melakukan "push" dan pendampingan dilapangan adalah camat kepala wilayah. Pemantauan dan intervensi dilakukan tim pada masing-masing kecamatan. Seperti yang dilakukan pada salah satu wilayah ini, camat ikut melakukan rekapitulasi cakupan dari masing-masing pos. Mendata Sasaran-sasaran yang belum diimunisasi, beserta masalah yang dihadapinya. Kemudian bersama muspika langsung menjadwalkan sosialisasi dan advokasi. Sungguh sebuah sinkronisasi kerja yang luar biasa, memenuhi tenggat waktu yang tersisa.

Belum lagi berbagai upaya terkhir untuk negosiasi pada sasaran yang masih "kekeh" pada keputusan untuk tidak ikut program nasional imunisasi MR ini. Beberapa berhasil, sebagian kecil diantaranya mentok. Seperti kegagalan meyakinkan salah satu pos penting di salah satu wilayah. Berombongan lengkap sudah siap dengan logistik vaksin, pelarut, spuit, anafilaktik kit. Sudah berkali datang, sudah berkali pula ditolak. Toh diujung akhir diskusi memang tidak ada sanksi untuk yang menolak kampanye ini. Sesuatu yang tentu (menurut Pakde Parto) kontadiktif dengan roh "massal" pada kampanye ini. Seharusnya negara punya perangkat paksa untuk sesuatu yang diyakii akan berakibat fatal bagi orang lain jika sebagian kelompok menolak imunisasi ini.

Disudut lain, di ruang kendali rekapitulasi Kabupaten, petugas sibuk download dan konfirmasi laporan pelaksanaan di lapangan. Bertubi email dan WA silih berganti, sebagian konfirmasi angka dan cakupan, sebagian terkait update susulan hasil pelaksanaan. Mengejar target waktu pelaporan hari itu.

Overall, average ....

Jika dianalisa  dengan trend pencapaian harian cakupan MR Lumajang, plus upaya akselerasi terakhir yang luar biasa dari seluruh komponen (seperti gambaran diatas), maka capaian akhir kampanye ini tentu sebuah keniscayaan. Selanjutnya tinggal melakukan sweeping untuk sasaran yang masih tersisa. Memastikan seluruh sasaran telah mendapatkan imunisasi. Mewujudakan Lumajang bebas campak dan rubella. Semoga ...

Monday, October 2, 2017 0 comments

Catatan Kampanye Imunisasi MR Lumajang

Jawa Pos 22 September 2017 dalam salah satu kolom 'Imunisasi Campak Rubella' nya membuat sebuah judul "Jatim Oke, Lumajang Memble". Judul ini tentu sangat eksotis, mengena, menarik, dan mungkin tendensius, untuk sebuah hiruk pikuk jurnalisme (baca koran). Kata Bude Jamilah, khas tipologi bahasa hoax. Sekali mata melirik judul, jari dan jempol terhipnotis untuk segera klik, like, dan share. Soal isi utuh tulisan tentu hal lain.

Memble? Saya kira belum bisa dinilai se "menarik" itu.

Pertama karena diatas judul kolom itu ada tulisan "tinggal 8 hari lagi". Jika sedikit saja data dan analisa dilakukan, maka beberapa pertanyaan akan muncul. Masih 8 hari lagi, posisi 77%, plus trend pencapaian harian cakupan MR Lumajang. Saat tulisan ini saya buat, dua hari kemudian, cakupan ada di angka 83,8%. Terdapat kenaikan sekitar 3% per hari, kali 5 hari, sama dengan 15%. Dan capaian akhir akan ketemu 98% (target nasional >95%).

Sebagai awam saya maklum. Program imunisasi memang tidak hanya bicara soal kekebalan individu. Imunisasi men-syaratkan terwujudnya kekebalan komunitas, sehingga kemudian cakupan harus tinggi (MR >95%) untuk yakin mampu memutus mata rantai penularan campak dan rubella. Yang kemudian mengusik saya, soal target waktu kampanye MR ini. Apakah secara epidemiologi harus berakhir Agustus - September?  Mungkin tidak demikian jawabnya, toh dari aspek waktu lain, bahkan ada jeda setahun untuk wilayah diluar Jawa. Dan banyak pertanyaan awam lainnya yang tidak harus saya tulis (bukan domain cah ndeso, ujar bude Jamilah lagi)

Saya tidak tahu persis.mengapa program ini diberi nama "Kampanye" imunisasi MR?. Bukan Bulan Imunisasi MR misalnya, seperti Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio. Namun yang saya pahami kemudian setelah membaca kolom Jawa Pos ini, bahwa tersirat ada kompetisi dalam program ini. Capaian tiap wilayah akan dibandingkan, lalu dihare luas diberbagai media (medsos, atau lainnya). Tentu hal ini efektif meningkatkan kinerja di lapangan. Diantaranya karena terlecut semangat kompetisi. Berbagai terobosan dilakukan untuk mencapai target. Sistem akan bergerak meningkatkan cakupan.

Tentu yang harus dipastikan kemudian adalah validitas data cakupan dan sasaran.

Jika saya mengikuti cerita MR di Lumajang, dapat saya runutkan beberapa hal. Pada awalnya strategi Lumajang memang mengharuskan capaian pelan, tidak secepat Kabupaten Lain. Beberapa hal teknis turut mempengaruhi pemilihan strategi itu, misalnya terkait integrasi dengan program lain, dan pertimbangan teknis lainnya. Lumajang percaya diri dengan strategi ini, walau sebetulnya "sistem kompetisi" sangat mengusik. Sampai kemudian berita liar, hoax khas medos terkait isu kematian anak post MR menyeruak menyebar tak terkendali.

Isu hoax ini tidak secara cepat dapat diredam petugas di lapangan, diantaranya karena prosedur secara birokratis mengharuskan  pembagian level wewenang "hak jawab". Walaupun teknis dan referensi sebenarnya petugas di lapangan yakin dapat meng-counter hoax ini. Penjelasan resmi pusat yang kemudian muncul sudah sangat terlambat. Bude Jamillah bilang- sudah terlanjur terjadi "lost confident". Kita bisa melihat bagaimana sasaran MR baik di lingkup Posyandu, sekolah, bahkan ditingkat petugas sudah sangat tidak nyaman terhadap situasi yang ada. Mungkin belum pernah ada di wilayah lain, fenomena masyarakat berbondong minta surat keterangan sehat untuk memastikan anaknya memenuhi kualifikasi untuk diimunisasi. Bagaimana sekolah kemudian banyak yang mengedarkan inform consent ke wali murid terkait imunisasi MR (sesuatu yang sebetulnya tidak berlaku pada imunisasi massal. Bagaimana kemudian harus dilakukan sosialisasi ulang face to face, sekolah per sekolah, oleh petugas pada level yang lebih tinggi. Sesuatu yang sebelumnya mampu diatasi pada level Puskesmas. dan lain -lain .....

Namun apapun masalahnya, Dia pemilik skenario. Kita harus selalu khusnudhon terhadap rencanaNYa. Ada hikmah dibalik semuanya. Selalu optimis (sejak awal) menjalankan strategi dan rencananya, sampai 30 September 2017. Demi derajat kesehatan masyarakat, memenuhi hak setiap anak mendapatkan imunisasi, demi masa depan mereka. 

Sunday, September 24, 2017 0 comments

Daily nates today : recommended environmental health film ..
(seri catatan harian 04/09/2012)


Daily nates today : recommended environmental health film ..
Satu hal yang pasti kusuka dari Amerika adalah filmnya .... selain tentu microsoft, google, dan boeing-nya. Sementara sederet hal lain yang tidak kusuka dari dia,selalu kehadiran mereka di banyak negeri dengan konflik dan perangnya, juga mahalnya CD asli windows 8 mereka ..... he3 .. Dan film erin brockovich, sebagaimana rekomendasi pak Wahyu "pengampu hukum lingkungan kita, hanya sebagian kecil wajah film Amerika yang gamblang merepresentasikan budaya, perjuangan hukum lingkungan, dan sentuhan kemanusiaan yang diracik apik khas sentuhan hollywood, dengan sentilan kuat pada sisi kemanusiaan dan detail plot film.
masih di bandungan Semarang

Erin Brockovich (lahir 22 Juni 1960), adalah seorang aktivis lingkungan berkebangsaan Amerika yang memenangkan gugatan atas kasus pencemaran air minum di California oleh Pasific Gas and Electric Company. Sekarang dia bekerja sebagai presiden Brockovich Research and Consulting dan konsultan untuk Girardi and Keese. Erin Brockovich juga menjadi inspirasi untuk film peraih Oscar yang berasal dari kisah nyata, yang menggunakan namanya sebagai judul film, Erin Brockovich. Julia Roberts memerankan Erin sebagai tokoh utama. Film tersebut dinominasikan untuk 5 piala Oscar, Aktris Utama Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik, Direktur Terbaik, Gambar Terbaik, Penulisan Naskah Terbaik. Julia memenangkan penghargaan untuk Aktris Utama Terbaik (Wikipedia).

Tahukah kita (post graduate kesling UGM) bahaya penggunaan Chromium Hexavalent yang dipersoalkan dalam film ini, sehingga erin brockovich berhasil memenangkan gugatan (atas PG&E) terbesar dalam sejarah pengadilan Arbitrasi Amerika Serikat ... ? (tugas baru Prof Sukandarrumidi ... bahas ...!!”

Saturday, March 11, 2017 0 comments


TerJebak Hujan di seputar Malioboro
(18 Maret 2012)

  • Tumpah ruah semburat lintang pukang muncrat di sela ketiak jagad, jadikan pertiwi dihampar selaksa H2O .
  • Dan barisan arthropoda melantunkan syair syukur bertubi-tubi, dan geliat basah bumi jadikan rekah senyum simpul spora taenia saginata dan mansomnia banchrofti .
  • Di ujung ekor mataku, berjalan tertatih serombongan sales promotion girl Matahari dept Store, berjingkat hindari selingkuh hujan yang kian mendera ..

     

Friday, March 10, 2017 0 comments

Tanah Strategis DijualTanpa Perantara di Paiton Probolinggo


Memenuhi permintaan sahabat yang berencana untuk hijrah, berikut disampaikan kepada pengunjung Blog ini, informasi terkait Penjualan Tanah di Paiton dan Rumah di Lumajang :


Tanah Pekarangan
Detail Lokasi dan Luas
  • Luas Tanah 1.073 Ha (sekitar 42x250 meter). Sertifikat dan surat-surat lengkap
  • Alamat : Jl. Daendles / Raya Paiton Kec. Paiton Kab. Probolinggo – Jatim - (Sebelah barat PLTU Paiton)
    (Di dekat lokasi saat ini juga sudah berdiri banguna Rumah Sakit Paiton)


Rumah
Detail Lokasi dan spesifikasinya sebagai berikut :
  • Luas Tanah – 412 m2
  • Luas bangunan – 200 m2Tampak Luar
Alamat : Jl. Srikaya Gg. Masjid No. 18 Sukodono
Kab. Lumajang - JatimTampak Dalam 

INFORMASI LENGKAP :
- atau telp./WA 081249286834 – BBM 550FEAD0

Thursday, March 2, 2017 1 comments

   Pogung Temaram Senja Ini 
   (Seri Catatan Harian 17/09/2012)

  • Pogung temaram senja ini, bayangnya dilipat cakrawala nun jauh diujung buram pojok kali code
  • “    Dan sebarisan blekok itu tersengal luruh di atas kepak bumi yang kian tak bersahabat. Tepat diakhir kelokan selokan mataram di depan fak. Kehutanan itu. ... 
  • Dan aku.., sedang masgul direnda celoteh KRS dan sebarisan panjang aksioma, nun jauh disana di cekung kecil julang semeru..” 

Sunday, February 19, 2017 0 comments

Global Warming dan Ketajaman Ramalan Joyo Boyo
(seri catatan harian 25/09/2012)

“Mohon do'a restu teman-teman, sesuai rencana aku pindah topik proposal. Topik baru saya saat ini sudah mendapat respon cukup menggembirakan dari para akademisi dan pengampu mata kuliah di lingkungan IKM - UGM (melalui serangkaian korespondensi yang kami lakukan). Kebanyakan mereka berpendapat, selain eksklusive, langka, menantang secara metodologis, mereka juga sangat apreciate dan respect, karena topik ini mampu menjembatani missing link antara budaya jawa dan environmental health secara global.

Sebagai sharing dapat saya tuliskan topik baru proposal adalah "Global Warming dan Ketajaman Ramalan Joyo Boyo - Studi Tentang Ramalan Hilangnya Beberapa Kota di Jawa Karena Banjir". ..

Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif "Supranatural Regression" dengan alat ukur wawancara imajiner terukur dengan para tokoh mendiang raja-raja Jawa. Sementara key person koresponden adalah Nyi Roro Kidul, sebagai penguasa wilayah yang secara langsung akan terkena dampak global warming karena mencairnya es di kutub.

Saat ini saya sudah melatih beberapa tenaga pelaksana wawancara yang terdiri dari para dukun terlatih (termasuk dukun cabul-versi pak soend). Dalam informed consent kita, sudah disepakati kedua belah pihak, tidak menggunakan tape recorder atau alat tulis dalam wawancara ini. Sedangkan sebagian besar biaya penelitian terserap pada biaya pengadaan kemenyan, dupa, dan kembang ....”

Thursday, February 16, 2017 0 comments

Subscribe here

Popular Posts