Lumajang Travelers

Lumajang Travelers, Puncak B29, Air terjum Tumpak Sewu, Sgi Tiga Ranu, Ranu Pane Base Camp Semeru Mountains.

Lumajang Social Hiking

Warna Warni Budaya Jawa, Madura, Tengger, rancak tersaji disini.

Lumajang Exotics View

Lembah luas sepanjang kaki Semeru, Gunung tertinggi di Jawa ada disini.

Lumajang Care

Masyarakat care, penuh empati, dihampar senyum, salam, dan sapa.

Harmoni Lumajang

Temukan Harmoni Lumajang diantara serakan awan dan hamparan hijau ladang dan ngarainya.

Sunday, January 18, 2015

Sisa Catatan Kecil Air Asia itu

Antara Parasut dan Menjinakkan Gravitasi

Hal pertama yang menjadi pertanyaa awam saya ketika mendengar Air Asia Hilang kontak adalah, bagaimana sebuah barang dengan harga lebih dari 1 billion rupiah bisa tidak terdeteksi keberadannya ketika loss contact. Saya menjadi khawatir peristiwa Malaysia Airlines tempo hari terjadi pada Air Asia. Khawatir TNI dan Basarnas dengan tanpa kepastian dan keyakinan, akan hiruk pikuk diseantero wilayah koordinat samudra untuk mengendus nya. Alhamdulillah keberadaan Air Asia segera diketahui beberapa hari kemudian.

Kembali ke pertanyaan awam saya, harga selangit sebuah pesawat, komponen terbesarnya sebetulnya mengarah kemana sih? Aspek kenyamanan, aspek kemanan, pajak, keangkuhan teknologi, atau "ke-ke" yang lainnya? Berapa lapis tool yang dicadangkan sehingga jika sebuah force majeur  menimpa sebuah pesawat kita tak lagi dibingungkan lagi dengan hanya pada proses pencarian koordinat keberadaan?

Saya menjadi teringat pada (konon) kemajuan teknologi spionase jauh ketika jaman era perang dingin dulu. Bagaimana teknologi Barat mampu membaca (bahkan) sebuah kolom majalah yang dibaca pejabat kremlin.Itu dulu, belum saat ini, ketika era google dan android telah membuat terperangah kita kaum pengguna (bukan barisan pencipta).Bagaimana kenyataan kita tak lagi punya ruang privasi secuilpun dihadapan para pencipta itu. Kita punya acount media sosial di rumah mereka, kita punya email di rumah mereka, kita chatting, upload gambar, mengeluh, menggerutu dan sejuta ekspresi kegalauan kita tulis di server dan hosting mereka. Bahkan kita menyimpang sedikit kerja dan dokumen kita di cloud mereka. Intinya, saya pikir, kita sudah menyerahkan data diri kita pada para pencipta dan pemodal.

Apalagi sebuah jati diri pesawat semahal dan secanggih itu. Teknologi macam apalagi yang belum sempat dibenamkan pada mereka? Namun ada sedikit otak atik logika awan saya menyangkut itu. Berbagai keterbatasan, kalau boleh diasumsikan sesederhana itu, teknolohi saat ini, diantaranya karena kegagalan teknologi dalam menjinakkan gravitasi. Saya membayangkan bagaimana wajah bumi akan berubah total jika gravitasi bisa dijinakkan. Taruhlah pada sektor transportasi, kemacetan tidak lagi terjadi di daratan jalan raya, di angkasapun akan disibukkan dengan macet dan pengaturan kanal jalur taransportasi. Dan kita tidak akan lagi mendengar pesawat terbang jatuh.

Ok lah jika ide menjinakkan gravitas terlalu jauh. Lagi-lagi pertanyaan awan saya. Mengapa sebuah pesawat tidak dilengkapi parasut cadangan sebagai pilihan terakhir jika terjadi loss tenaga? Saya membayangkan sebuah pesawat terbang yang turun pelan-pelan dengan parasut besar yang mencekeram kuat body pesawat.Toh pada pesawat tempur, penggunaan parasut untuk membantu proses pengereman sudah biasa digunakan.

Menyangkut cumulusnimbus? ... akal memang sering lupa diri, teknologi kadang berdiri angkuh ditengah ingar bingar kecanggihannya". Kita juga sering dibodohi dengan casing dan harga. Padahal dihadapan pencipta kita tidak ada apa-apanya ...

The Virgin Bamboo Forest

Wisata Hutan Bambu Lumajang

Peran penting Hutan bambu di wilayah Penanggal kecamatan Candipuro ini – selain tempat wisata – adalah fungsi besarnya sebagai reservoar air. Di hutan bambu ini tersimpan air bersih dengan debit melimpah. Hutan bambu Penanggal mampu mensuplai air untuk kebutuhan pertanian maupun air bersih masyarakat jauh di sekitar wilayah ini.

Hutan bambu juga cocok sebagai habitat kera yang hidup nyaman beranak pinak di hutan ini. Untuk lebih. Lebih lengkap gambaran hutan bambu Penanggal lengkap dengan limpahan air bersihnya, sebagaimana dalam video berikut :


Sunday, April 6, 2014

Reward PNS Kita

Cerita tentang pegawai negeri, akan selalu menarik untuk dieksploitasi dari sudut manapun. Sudut pandang kita pada Pegawai negeri memang akan sangat banyak - dapat diambil dari berbagai sisi, baik sisi kinerja dan produktifitas, tingkat kesejahteraan dan penggajian, loyalitas, etos kerja, bahkan sampai sisi pilihan politik, tingkat perceraian, angka ketergantungan pada narkoba, an lain lain – dan lain-lain.
image
Dan diantara berbagai sudut pandang dan komentar orang, atau pakar, atau yang menamakan diri pakar, atau menyimak obrolan tetangga kiri kanan – agaknya sudut pandang miring (bisa ke kiri atau ke kanan) yang paling sering terdengar. Orang akan sering mendengar komentar berbau kurang simpatik terhadap berbagai jenis pelanggaran yang dilakukan oleh PNS, mulai dari yang bersifat kurang prinsipil (remeh temeh) – seperti shopping pada jam kantor – sampai yang bersifat prinsipil seperti kasus korupsi (walaupun yang satu ini masih kalah gaung dan proporsionalnya dibandingkan dengan wakil rakyat kita).

Wednesday, March 12, 2014

DR. HARYOTO HOSPITAL UNHOSPITALITY


Kyai Kasrtubi berkunjung di rumah sakit di pinggir kota itu dengan amat ringan dan tanpa beban. Baru memasuki pintu masuk yang diujungya terbentang selasar dan taman pojok yang dilengkapi air mancur dan biorama alam yang terkesan eksklusif, resepsionis yang di bibirnya telah terpasang cetak biru sinyum dan sapa ramah, menyambutnya dengan kesan kuat akan ketulusan.

Wednesday, February 12, 2014

Ayat-Ayat Syaiton (?)


THE SATANIC VERSE (?)

Aku senang ngobrol dengan Kyai Kastubi bukan karena masalah kitab kuning yang gundul. Bukan pula karena kyai kampung ini (meminjam terminology Gus Dur), sudah ikut-ikutan menjadi oportunis,menurut simbokku, karena berulang kali ganti kendaraan politik “hanya untuk sekedar” numpang nampang di acara-acara seremonial ulama’- umaro” di kampungku. Juga bukan masalah Ahmadiyah, kitab mujarobat, label halal, fatwa aliran sesat, ONH yang seiya sekata dengan harga minyak goreng curah, dan lain-lain topik pergunjingan remeh temeh di acara infotainment. Aku senang ngobrol dengan kyai Kastubi ternyata karena beliau punya pandangan yang selalu tidak sama dengan pandangan-pandanganku !

Pada saat aku sibuk dengan daftar hujatan ku pada Amerika karena telah menenggelamkan bangsa Irak kembali ke abad pertengahan dan menjarah habis cadangan minyaknya, kyai Kastubi dengan enteng mengatakan persetujuannnya karena AS telah membantu musuh bebuyutannya, mendiang Saddam, karena telah berbuat mubadzir dengan mengobarkan Perang Irak – Iran serta berbuat mubadzir pula dengan keputusan kurang gaweannya dengan menyerang Kuwait.
Pada saat aku bingung mencari literatur tentang Bakteri Sakazaki, beliau bilang berita itu memang telah di setting manis untuk kampanye ASI dan ikutannya (ya dana, kebijakan, opini, dll).

Pada saat aku ikut-ikutan prihatin akan semakin mindernya tentaraku karena alat-alat perangnya sudah tidak layak untuk latihan (apalagi untuk perang beneran), dia bilang itu hanya secuil manuver para broker.
Pada saat aku nerocos berargumen tentang mencari akar penyebab dan alternatif memecahkan masalah gizi buruk dari aspek optimalisasi peran masyarakat pada deteksi dini lewat Posyandu, beliau bilang bahwa cikal bakal masalah itu lahir sejak Bulog dikebiri IMF atas nama Gombalisasi. 

Jauh seberlum Menkes berimprovisasi dengan virus Flu Burung yang berakrab ria dengan adidayanya Amerika, kyai Kastubi telah dengan sinis mengatakan bahwa tidak akan mungkin kita mencari asal muasal Virus Flu Burung yang bikin demam tinggi dan sesak tinggi, dan kematian tinggi ratusan saudara kita. Apalagi dicari dengan menembaki merpati dan membakari ayam dan itik dipekarangan kita. 

Aku sebetulnya malu, karena ternyata reaksiku selalu spontan dikarenakan melihat TV, membaca Koran, Browsing Internet, atau melototi infotainment. Sedangkan Kyai Kastubi tanpa melihat hal itu selalu telah mempunyai pandangan dan pendapatnya sendiri. Jangan-jangan media menjadi the satanic verse bagiku ............... ?

Tuesday, February 11, 2014

Fit and Proper Test

Fit and Proper Test pada Birokrasi – Sebuah Catatan

Sejak awal – dan sering timbul tenggelam berganti topik dan gossip – di Lumajang topik fit and proper test relatif stabil menghiasi top topic, baik dimasyarakat maupun di lingkup birokrasi. Dengan jargon peningkatan sumber daya manusia pada birokrasi, yang ditopang dengan madzab transparansi dan akuntability, agaknya topik tersebut cenderung menarik dan up to date untuk diobrolkan di warung-warung seputaran stadion Semeru. dasi

Perhatian dan gerakan politis pada jargon peningkatan Sumber Daya Manusia ini memang akan selalu dirasakan relevansinya dan penting untuk ditekankan pada keluarga besar birokrasi – yang agaknya selalu bermasalah dengan kinerja dan tingkat kesejahteraan.

Pada awal cerita, rencana fit and proper test bagi para calon pejabat tersebut satu paket dengan “janji politis” lainnya – yang kemudian harus diterjemahkan dengan amanah politis.

Sebetulnya mungkin menjadi sangat logis ketika kita membicarakan fit and proper test ini apabila juga harus kita bicarakan tentang stok. Dengan stok yang melimpah kita perlu semacam media rapid sand filter (meminjam istilah media proses purified air bersih) untuk mendapatkan atau menentukan stok yang cocok bin sesuai dengan tuntutan pasar (masyarakat, user).

Konon Fit and proper Test dalam bahasa Inggris berarti pantas-patut atau layak (baca kepatutan, kepantasan, kelayakan). Sehingga test ini dapat berarti uji kepatutan, uji kepantasan, atau uji kelayakan – uji Kemampuan dan Kelayakan. Beberapa jenis uji biasanya akan diberikan menyangkut beberapa indikator, diantaranya uji kemampuan (knowledge), ketrampilan (skill) serta masa kerja. Indikator knowledge biasanya akan menyangkut parameter visi, misi, pengetahuan umum, ataupun pengetahuan yang relevan dengan bidangnya. Sedangkan skill dapat menyangkut technical skill dan managerial skill. Untuk uji kepatutan atau kemampuan biasanya akan dilakukan dengan mengaitkannya dengan sikap atau perilaku (attitude) serta masa kerja yang lampau (experience). Sementara indikator lain biasanya akan diberlakukan menyangkuit integritas dan kompetensi.

Namun kalau kita melihat prasyarat eksternal dengan memasukkan unsur stok atau ketersediaan, terdapat kenyataan yang relatif sulit dibantah, bahwa stok memang terbatas. Bahkan dengan indikator dan kriteria simple tapi wajib yang bernama Golongan, Kepangkatan, dan Masa Kerja, akan sulit mencari pilihan lain.

Karena kita tahu, jabatan struktural itu ya jabatan politis – walaupun hal tersebut menurut bude Jamilah tidak tepat – namun konvensinya kayaknya demikian. Saya menjadi teringat celotehan mbah Kasan tentang pola pembentukan kabinet di negeri tetangga sebelah – bahwa kabinet yang terbentuk dari sebuah proses ingar bingar demokrasi ujung-ujungnya merupakan kabinet sharing dan balas jasa (dari partai pendukung – begitu menurut pakar di TV One). Dan pada saat itu - tim sukses akan betul-betul sukses - sedangkan tim yang tidak sukses alias tim suksesnya lawan akan betul-betul terpuruk. Dan dogma utamanya adalah loyalitas, loyalitas yang sangat dipersempit pada ranah pribadi, dan bukan loyalitas pada standard profesi apalagi negara (terlalu ndakik-ndakik ?.

Salah mereka juga sih, sudah dibilang harus netral ya mesti netral. Namun netralitas itu mestinya juga harus berlaku pada seluruh ujung kontestan, lha sama – sama tidak netral tim sukses kemudian sukses, sedang tim yang tidak sukses kemudian terpuruk. Mbah bilang nepotisme itu sunnatulloh .... wallohu a’lam bissawab ...

Ah itu sudah menjadi cerita lama, dan cerita baru akan segera dimulai (setidaknya menurut sang dalang imajiner) - dan lakon cerita itu bernama Fit and Proper Test. Sebetulnya cerita itu akan mempunyai alur dan ending yang keren apabila tim yang tidak suksespun diberi kesempatan bertanding (seperti yang sudah sangat cantik diperagakan SBY dalam penyusunan konfigurasi pemerintahan pasca Pilpres). . Walaupun range nilai tinggi tentu akan jatuh pada indikator loyalitas – its ok – namun azas keadilan dan transparansi sepertinya akan selalu dicatat di hati masyarakat. Untuk loyalitas - apakah perlu melibatkan metode sumpah pocong dan penggunaan instrumen lie detector – celetuk bude Khasanah ............ mboh bude …… iku ben dadi urusane sedulur seng nggawe dasi wae  …..

Thursday, November 28, 2013

Century Bank Show

Century of Centurious
 
Akhir-akhir ini ide dan minat menulisku cenderung loyo dan mati kutu. Kalau ingin mencari kambing hitam, mungkin dapat kusebut sederet alibi, seperti vitalitas otak yang selalu bermasalah dengan lola (loading lama), atau bombardir blow up media massa terhadap secuil kasus (dari ribuan kasus yang sebenarnya ada). Dan seperti psikologi massa lainnya, informasi media ini sering menina bobokkan fikiran kritis penonton, kemudian perasaan dan fikiran bawah sadarny yang aktif turun naik. Apalagi blow up ini mempunyai trend selalu menggunakan referensi pakar dan yang menamakan diri pakar.

 korupsi Seorang motivator sempat tergelitik untuk berkomentar atas hiruk pikuk euforia media massa ini, dengan menyayangkan beberapa manuver tokoh yang kebetulan memang telah dianggab antagonis. Mereka telah melakukan usaha yang sia-sia, karena masyarakat sudah amat yakin dengan kesimpulannya. Pertanyaannya - apakah itu inisiatif sang tokoh atau sang tokoh telah menjadi korban industri media (dengan segudang effortnya untuk mencari suku cadang berita). Namun apapun asbabun nuzulnya, saat ini semua memang sudah tergilas industri media, minimal dari sudut opini.

Namun persoalan menjadi lain ketika media memang mempunyai seperangkat alat bukti yang valid, seperti rekaman percakapan telepon antara Anggodo dan berbagai pihak yang dihubunginya. Walaupun legalitas kekuaatan hukum masih menjadi perdebatan, namun bukti itu telah menghipnotis jutaan rakyat Indonesia dan menggiring opini mereka bahkan sampai pada kesimpulan benar dan salah. Dan ketika beberapa pihak yang telah masuk dalam percakapan itu mencoba menjelaskan, seperti komentar sang motivator diatas, akan mubadzirlah semuanya.

Its oke, apapun jenis alibi dan manuvernya, saat ini semua sudah jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah dari perang opini dan perang pencitraan ini. Masalahnya sekarang bagaimana cara mundur yang terhormat. Cerita itu dimulai ketika Presiden membentuk Tim 8. Kalau boleh diartikan, pembentukan tim ini mungkin sudah di-nawaitu-kan sebagai jalan mundur yang elegan itu. Ketika rekomendasi tim ini di-floor kan ke publik, pada saat itu juga (sebetulnya) tahap perang opini dan pencitraan dimulai. Selanjutnya Presiden tinggal melingkari jawaban betul dan salah yang sudah sangat jelas dapat dibaca. Dan diam-diam saya salut dengan cara Presiden kita meramu kata-kata dan berekspresi dalam intonasi yang sangat pas dalam kapasitasnya.

Reaksi kurang sepadan sebetulnya justru diperlihatkan oleh para lawyer, sepertinya maqom pengetahuan hukum mereka terlalu jauh meninggalkan maqom intuisi politisnya. Seperti komentar mereka bahwa Presiden harus eksplisit menyampaikan kebijakan dan langkah atas rekomendasi ini. Justru mnenurut saya, pidato presiden sudah sangat eksplisit menanggapi rekomendasi Tim 8. Kejelasan itu menampakkan wujud aslinya, salah satunya ketika Mabes Polri mengumumkan gerbong Mutasi para Patinya (dan sang lakon termasuk di dalamnya). Walaupun masyarakat sangat maklum bahwa mutasi ini skenario mundur teratur yang elegan .... namun harus diakui cara ini ternyata relatif rahmatan bagi pihak yang berperkara. Dan saat tulisan ini di posting, kita masih menunggu skenario-skenario elegan lain dari obyek sasaran rekomendasi Tim 8, mungkinn ada yang telah menemukan cara yang jauh lebih terhormat ?

Dan cerita ini sepertinya akan terus bergulir ke episode-episode selanjutnya. Sebetulnya sang lakon telah bergeser, dari KPK ke MK !! Pada awal pergantian dari Maestro Jimly Asshiddiqie ke Machfud MD sebenarnya saya sempat kurang rahayu. Permainan cantik yang sempat dibangun Jimly (khawatir) tidak lagi dapat diteruskan Machfud, tapi ternyata produk Madura ini jauh lebih cantik dalam mengocek gerakan tanpa bola. So ... waited next game ....