Lumajang Travelers

Lumajang Travelers, Puncak B29, Air terjum Tumpak Sewu, Sgi Tiga Ranu, Ranu Pane Base Camp Semeru Mountains.

Lumajang Social Hiking

Warna Warni Budaya Jawa, Madura, Tengger, rancak tersaji disini.

Lumajang Exotics View

Lembah luas sepanjang kaki Semeru, Gunung tertinggi di Jawa ada disini.

Lumajang Care

Masyarakat care, penuh empati, dihampar senyum, salam, dan sapa.

Harmoni Lumajang

Temukan Harmoni Lumajang diantara serakan awan dan hamparan hijau ladang dan ngarainya.

Tuesday, June 11, 2013

Pornografi (?)



DUH … GUSTI KANJENG RATU (HEMAS)

Ketika diawal tulisan seorang tokoh perempuan nasioanal membuat kesimpulan cukup menggoda seputar RUU APP dengan mengatakan “bukan arus luar yang dibendung, melainkan pohon realitas di rumah sendiri yang akan dicabut sampai akar-akarnya”, saya sedikit tergoda untuk segera noleh githoke dewe.
Bagaimana realitas bangsa ini dengan carut marut korupsi dan segudang berita tentang aborsi, pergaulan bebas anak cucu tetangga - bahkan anak sendiri, yang dengan gampang ditemui di vedeo phone mereka, dan berbagai dekadensi yang kata mbah kung saya membayangkan saja dahulu tidak akan “ditoleransi”.


Agaknya Gusti sangat membanggakan sebuah penelitian “ilmiah” dengan menjadikannya pagar berduri untuk menina bobokkan pohon realitas yang sangat gusti uri-uri. Saya jadi tidak mengerti bagaimana hasil penelitian ….

Saturday, June 1, 2013

Pemenang Pilbub Lumajang

Pemenang Riil Pemilihan Bupati Lumajang

Jika ada pertanyaan siapa pemenang riil pilbub Lumajang? Maka salah satu jawaban favorit saya adalah sang master tink tank .. !!

Sebetulnya sejak hiruk pikuk dan simpang siur prosesi pesta demokrasi di Kabupaten Lumajang mulai cetar membahana, saya kurang tertarik menuliskannya. Entahlah rasanya masih terlalu banyak yang jauh lebih bernuansa priority berkecamuk dalam fikiran ini. Atau saya sudah sangat jenuh direcok dan cekoki gosip dan infotainment politik di jakarta sana, baik dengan bumbu manuver maupun dengan resep KPK. Dan semua secara massif di super blow oleh televisi, dan celakanya sedikit banyak saya tahu siapa shohibul bait media itu, sehingga nuansa jurnalism nya sangat identik dengan apa dan siapa dibalik sang pemilik. 

Kembali ke Pilbub Lumajang, dengan menyuguhkan empat pasangan calon, sebagai pemilih yang kata orang kebanyakan disebut mewakili masyarakat perkotaan (jika boleh saya menyebutnya sebagai pemilih rasional), tentu saya cenderung menjatuhkan pilihan pada pasangan SAAT. Intelektualitas pasangan ini lebih keren. Apalagi jika ukuran debat kandidat menjadi bagian indikator pemilih menjatuhkan pilihan politiknya, maka debat di JTV sedikit banyak telah menguatkan pilihan saya ini. Bagaimana visi Misi Sjahrazad dan gaya diplomasi runtut dengan pitch control maut gaya Gus As'at berhasil menohok peserta lain.


Namun sebagaimana kebanyakan kutukan keturunan lain di Indonesia, sebetulnya saya juga terkungkung pada kutukan keturunan itu dari aspek pemilih tradisional. Saya dilahirkan (dulu ketika jaman Almukharom Pak Harto masih sangat kuat), sebagai  keluarga oposisi tulen. Ketika orang sedesa saya sudah sejak lahir ta'zim berteduh di bawah pohon beringin, dan penganut madzab azas tunggal Pancasila, ibu dan keluarga saya sudah menenteng gambar Ka'bah dengan sangat militan. Ketika orang sedesa saya masih belum familiar dengan jilbab (ketika itu tahun 80-an), ibu saya sudah sangat militan menutup aurotnya ketika keluar rumah.  Kemudian ketika idola utuh saya Gus Dur mendirikan PKB, spontan keluarga ini menyokongnya dengan segenab fikirannya, karena memang roh keluarga sejak awal memang Nahdhiyin. Dan ketika sebagian pendidikan saya kemudian hari juga melalui kembaga keagamaan Muhammadyah, kemudian sempat menjadi simpatisan kuat partai keadilan (ketika itu), maka menjadi lengkaplah warna politik hidup ini.

(Namun yang keren untuk dicatat, fakta bahwa ayah tercinta saya sampai akhir hayat beliau Insya Allah masih setia pada Golkar. Bukan karena kalkulasi politik yang bertele-tele, namun karena guru thoriqot beliau, - yang terhitung masih keluarga dekat, yang mangku pondok pesantren lumayan berpengaruh di Magetan sana - adalah Golkar .. !! - Mungkin yang belum hinggap pada fakta sejarah tradisionil saya adalah PDI.  Namun saya selalu masih mengidolakan kebesaran dan aura inspiratif Bung Karno).

Latar belakang diatas menjadi ikut mewarnai pandangan saya terhadap pasangan calon Bupati lainnya. Sebagaimana kita ketahui basis Lumajang memang Nahdiyin. Dan semua pasangan calon sepertinya sangat memahami ini, sehingga pertimbangan faktor tradisional ini mempunyai bobot dan nilai tinggi pada rekrutment pasangan calon.

Dan jika mengacu semua latar belakang diatas, maka posisi semua calon sepertinya mempunyai kadar toleransi sama di mata saya, dari aspek tradisionil ini.

Semula sebagai mana predksi banyak orang, persaingan ketat akan terjadi pada pasangan SAAT dan ARIF. Pertama dukungan mesin partai. Sebagai partai pemenang pemilu lalu, PDI perjuangan yang mengusung Agus Yuda diprediksi akan mulus menggandeng pemilih tradisional mereka. Hal ini masih ditambah dengan faktor KH Adnan Syarief yang dikenal sangat senior pada basis pemilih tradisional NU. Sementara pasangan SAAT dengan sederet keuntungan sebagai incumbent dan aspek intelektualistasnya, masih punya faktor Ke Nahdhiyinan Gus As'at.

Yang tidak diprediksi jeli oleh sebagian besar orang, termasuk saya, adalah kekuatan ASA. Jika melihat riil diatas kertas, orang akan dengan mudah tidak meliriknya. Pertama karena kendaraan pengusung mereka (PKB) masih kronis dengan masalah lama terkait aspek legalitas.  Kondisi mana diperkuat dengan dikeluarkannya keputusan PTUN Surabaya terkait gugatan kubu Rofiq, maka lengkaplah semua aspek yang menjadikannya pasangan yang kurang diperhitungkan.

Kalkulasi diatas kertas memang lain dengan kalkulasi bawah kertas. Hampir mayoritas orang Lumajang tahu siapa grand master dibalik pasangan ASA. Namun sepertinya sebagian besar mereka (termasuk saya) kurang bisa memprediksi seberapa fight dan niat bertempur sang suhu ini. Kaliber keahlian yang sangat jarang orang bisa memiliki ini, mungkin sudah sunnatullah, garis alam, dan rangkaian indah pasangan genetis turun temurun sang grand master. Diam-diam fenomena ini sangat menarik minat saya. Dalam hati kecil saya, suatu saat saya ingin menyusun biografi sang suhu.

Kembali ke Pilbub Lumajang, sebagaimana kita tahu semua perhitungan buyar ketika quick qount dua lembaga survey menempatkan ASA sebagai pemenang Pilbub Lumajang. Namun kemenangan mereka sepertinya masih dalam batas margin signifikansi eror kesalahan prediksi, sehingga apapun masih bisa terjadi. Apalagi banyak lembaga memastikan riil count SAAT setelah itu.

Pada awal masuknya ASA ke pusaran persaingan ini, prediksi naif saya mengatakan, bahwa yang akan diuntungkan adalah SAAT. Basis suara ARIF akan tergerus oleh sistem mereka (bukan basis SAAT). Namun ketika melihat begitu sistemiknya kantong suara ARIF semburat, saya menjadi berfikir kecerdasan orang dibalik gerakan ini. Saya menjadi berfikir, realitas sosial di desa-desa Lumajang. Mengapa desa? Karena gerakan ASA tidak mampu mengusik kawasan kota. Atau justru sang master plan sengaja melepas kota dengan segala kalkulasinya?

Lalu siapa sebetulnya pemenang pilbub Lumajang ?

Pemenang Pilbub Lumajang adalah sang suhu ... !! Seperti selentingan khabar dari mulut ke mulut, bahwa sebetulnya beliau tidak perduli terhadap pemenang pilbub ini, bahwa sebetulnya beliau justru memegang lawan ketika melakukan deal dengan lawan, bahwa sebetulnya sang kandidat pun sudah bertekuk lutut masuk skenario beliau, dan lain-lain khabar yang dibawa burung. Namun melihat gelembung pemuaian suara ASA yang mencengangkan, mungkin bisa dikalkulasi juga, bahwa beliau tidak bergerak business is busines. bahwa pergerakan massif beliau jauh diujung harapan juga memberi harga besar pada lahirnya kehormatan trah keluarga pada perebutan derajat dan pangkat ini. Dengan kata lain, makna gerakan ini bukan hanya murni business, tapi juga nilai tinggi pemenang pilbub pada aktualisasi diri. .. Wallahu A'lam Bishowab ...

After all, apapun yang terjadi, Lumajang harus tetap berlari  ....

Lumajang, 12 Rajab 1434 H

Thursday, May 30, 2013

MENARUH (SEBENTAR ) NASIONALISME DALAM KALENG BISKUIT

Pagi ini Kyai Kastubi menyempatkan browsing dan membaca pengumuman lelang di sebuah Web lelang.com. Sudah tiga tahun sejak lelang terahir dilaksanakan, kemajuan di republik ini memang terasa mencengangkan. Kita menjadi kurang membutuhkan regenerasi pemimpin lagi sejak lelang terbuka ini dilaksankan, lelang ini memang dikususkan untuk mencari birokrat.


Lelang presiden-menteri-dan lelang pejabat eselon satu dilaksanakan menyusul kegagalan beberapa kali pemilihan dan pelantikan pejabat birokrat. Lelang ini memang terbilang terlambat, karena lelang serupa untuk menentukan anggota senat (dahulu disebut anggota DPR) sudah lama dilaksanakan, dengan hasil tidak dijumpainya lagi siaran TV yang menayangkan anggota senat yang lagi menguap saat sidang, dan semakin bagusnya aturan main bernegara karena produktifitas mereka dalam membuat Undang-Undang tidak lagi dipengaruhi oleh uang sidang baik resmi maupun tidak resmi.



Setelah lima kali lelang dilaksanakan mayoritas pemenang lelang berasal dari beberapa top manager perusahaan multinasional, warga negara Eropa. Hal ini disebabkan karena persyaratan utama lelang adalah track record dalam dunia suap menyuap dan korupsi. Suatu hal yang terlanjur jadi budaya di negeri ini, sehingga sulit dipenuhi oleh peserta dalam negeri. Apalagi keterangan track record ini harus dibuktikan dengan rekomendasai dari lembaga independent internasional, sesuatu yang akan sangat sulit juga didapatkan oleh peserta dalam negeri, mengingat untuk mendapatkan rekom terbang memasuki negara mereka saja tidak bisa (padahal pesawat yang diterbangkan buatan meraka!).

Tuesday, December 4, 2012

MEMBERDAYAKAN BUANG HAJAT


Kyai Kastubi paling ingat teori seorang konsultasn Word Bank tentang perilaku buang hajat di negeri ini.
  • Jika anda belum pernah buang hajat di sembarang tempat (artinya anda pengguna setia jamban ), maka secara formal anda termasuk katogri lulusan TK
  • Apabila anda PERNAH buang air besar di sebarang tempat (artinya anda di kebun atau di jamban sama-sama bisa keluar), maka anda termasuk katogori lulusan SMA
  • Apabila anda sejak Balita sampai saat ini tidak pernah menggunakan jamban (artinya anda punya kebiasaan buang hajat di sungai, kebun - baik Hak Guna Lahan maupun Hak milik Sendiri, atau bahkan milik tetangga kanan kiri, maka anda termasuk Professor lulusan Harvard !

Thursday, October 4, 2012

GUNUNG GAMKONORA, MALUKU UTARA

Gunung Gamkonora adalah gunung yang terletak di Pulau Halmahera, tepatnya di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Puncak gunung ini merupakan titik tertinggi di pulau Halmahera, Indonesia. Letusan gunung berapi ini telah mengakibatkan terjadinya kawah yang memanjang dari utara sampai ke selatan. Letusan terbesar terjadi pada tahun 1673 dan disusul dengan tsunami yang meluluhlantakkan desa-desa di sekitarnya.

Gunung api ini kembali meletus pada tanggal 10 Juli 2007. Sekitar 8.000 orang dilaporkan mengungsi meninggalkan rumah-rumah mereka yang berdekatan dengan gunung tersebut.

Lihat Video Keindahannya : 


Terima Kasih

GUNUNG DEMPO, SUMATERA SELATAN

Gunung Dempo (3159 mdpl) terletak di perbatasan provinsi Sumatera Selatan dan provinsi Bengkulu. Untuk mencapai desa terdekat, terlebih dahulu anda harus mencapai kota Pagar Alam, kurang lebih 7 jam perjalanan darat dari Palembang. Dari ibukota Sumatera Selatan ini tersedia banyak bus ke arah Pagar Alam. Atau apabila anda dari Jakarta, sebelumnya dapat menumpang bus jurusan Bengkulu atau Padang, dan turun di Lahat.

Kota Pagar Alam, memang sesuai dengan namanya, kota ini jelas dikelilingi oleh pegunungan Bukit Barisan dan yang tertinggi dari barisan tersebut adalah Gunung Dempo. Gunung ini sangat indah menjulang tegak menggapai langit nan biru apabila dilihat pada pagi hari.

Oleh karena itu sangat tepat bila bermalam dulu di kota ini, disini banyak tersedia losmen atau motel, berkisar Rp. 20.000 semalam. Budaya kota yang sudah berbaur dari berbagai suku baik pendatang maupun asli menciptakan kedamaian yang anda tidak peroleh di kota-kota besar.

Dari terminal Pagar Alam, terlebih dulu mencarter mobil/taksi untuk jurusan Pabrik Teh PTPN III yang jaraknya mencapai 15 km dari terminal. Di pabrik ini ada baiknya anda berkenalan dengan seseorang yang biasa dipanggil pak Anton, beliau termasuk yang dituakan oleh para pencinta alam seantero Sumsel-Lampung. Dengan meminta bantuannya, mobil carteran akan membawa anda ke desa terdekat dari kaki gunung Dempo, yang dapat memakan waktu lebih dari 20 menit, karena jalannya cukup terjal, berkelok dengan melewati hamparan kebun teh nan hijau.

Jalur menuju ke puncak gunung inipun sudah sangat jelas dan bahkan di hari-hari biasa pun banyak orang desa yang sengaja naik ke puncak baik itu untuk mencari kayu ataupun sekedar berhiking.
Meski gunung ini cukup tinggi, tetapi air jernih yang ada terdapat sampai setengah perjalanan ke gunung ini sehingga para pendaki tidak perlu khawatir kehabisan air minum selama perjalanan. Sebuah sungai kecil yang jernih, mengalir di perbatasan hutan pertanda kita mulai memasuki daerah hutan yang ditumbuhi dengan tumbuhan yang mirip seperti yang kita dapati di gunung Gede-Pangrango, yaitu hutan montana. Jalan setapak penuh dengan akar-akar yang melintang, kemiringan lereng sendiri cukup curam untuk memeras keringat. Tidak ada tanda-tanda khusus, keadaan hutan ini hampir homogen dan sangat hening.

Empat atau lima jam kemudian, kita akan memasuki daerah dengan vegetasi tumbuhan berpohon rendah dan semakin rendah, beberapa daerah agak terbuka, pandangan pun menjadi luas. Gunung Dempo memiliki dua puncak yang satunya bernama Puncak Api. Menjelang puncak pertama Dempo yang merupakan dataran masif, Puncak pertama ditumbuhi tanaman yang rendah mirip perdu. Dari puncak pertama ini kita turun kembali ke lembah yang diapit oleh puncak pertama dan puncak utama. Dilembah ini terdapat sebuah sumber mata air mengalir di sini. Hanya airnya yang jernih ini sedikit kecut rasanya, mungkin pengaruh rembesan belerang.

Pendakian kepuncak utama tidak terlalu sulit. Lerengnya terdiri dari kerikil dan batu-batu dengan kemitingan lereng sekitar 40°, cukup stabil untuk didaki. Puncak utama gunung Dempo (3158 m), Merupakan kawah gunung berapi yang masih bergejolak dengan diameter sekitar seratus meter persegi. Dinding kawah cukup terjal dan tidak mungkin bisa dituruni tanpa batuan tali temali. Pemandangan dari puncak cukup mengasyikan. Selain kawah yang memberikan kesan khusus, tampak juga terhamparan provinsi Bengkulu dengan Lautan Hindia dengan hamparan lembah yang sunyi dan hening. Perjalanan turun hanya memakan waktu dua jam. Bila kemalaman anda bisa menginap di Dusuun VI, dengan terlebih dahulu minta izin kepala keamanan di sana.

Lihat Video Keindahannya : 


Terima Kasih

GUNUNG GALUNGGUNG, JAWA BARAT

Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya. Terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain obyek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih 120 hektare di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Obyek yang lainnya seluas kurang lebih 3 hektar berupa pemandian air panas (Cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air panas.

Gunung Galunggung mempunyai Hutan Montane 1.200 - 1.500 meter dan Hutan Ericaceous > 1.500 meter. Kebanyakan pengunjung obyek wisata Galunggung adalah wisatawan lokal, sementara wisatawan dari mancanegara masih di bawah hitungan 100 orang rata-rata per tahun. Rata-rata wisatawan dalam maupun luar negeri yang berkunjung ke Gunung Galunggung berjumlah 213.382 orang per tahun.

Melihat potensi daya tarik yang mungkin digali, serta posisi geografis yang cukup strategis, serta memiliki kekhasan dari kondisi alamnya obyek wisata Gunung Galunggung cukup potensial untuk dijual kepada wisatawan mancanegara. Namun obyek wisata tersebut belum dikemas dalam paket wisata yang profesional.

Lihat Video Keindahannya : 


Terima Kasih